DESTILASI laporan pratikum pertanian

I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Destilasi merupakan suatu cara pemisahan antar dua komponen atau lebih yang dilakukan dengan cara mekanis. Dalam praktek pemisahan tersebut dapat dilakukan dengan sedimentasi (pengendapan), sentrifugasi dan filtrasi (penyaringan) dan lain sebagainya. Pemisahan antara dua komponen yaitu antara cairan dengan cairan yang tidak saling melarutkan atau cairan dengan padatan yang terdispersi didalamnya dapat dilakukan dengan pengendapat atau sendimentasi tergantung pada pengaruh gravitasi terhadap kedua komponen tersebut. Pada sedimentasi antara partikel dipisahkan berdasarkan perbedaan densitas melalui suatu medium alat. Pada sentrifugasi pemisahan antara partikel padat dancair terjadi karena perbedaan ukuran partikel massa sedang pada filtrasi pemisahan antara partikel padat dan cair terjadi karena perbedaan ukuran partikel yang dilewatkan melalui medium berpori


B. Tujuan Praktikum
  • Untuk menghitung rendemen pada proses destilasi
  • Mengamati bau dan warna dari hasil destilasi daun sirih.





II. TINJAUAN PUSTAKA


Destilasi azeotrop merupakan proses pemisahan azeotrop, biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut atau dengan dengan menggunakan tekanan tinggi. Sedangkan destilasi kering adalah memanaskan material padat untuk mendapatkan fasa uap dan cairannya. Destilasi vakum adalah proses pemisahan dua komponen yang titik didihnya sangat tinggi. Metode yang digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm, sehingga titik didihnya sangat tinggi, metode yang digunakan adalah dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk destilasinya tidak perlu terlalu tinggi (Ahmad, 2002).
Destilasi adalah pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi berdasarkan perbedaan titik didihnya. Ada perbedaan komposisi antara fase cair dan fase uap, dan hal ini merupakan syarat utama supaya pemisahan dengan destilasi dapat dilakukan. Kalau komposisi fase uap sama dengan komposisi fase cair maka pemisahan dengan cara destilasi tidak dapat dilakukan (Earle, 1982).
Pada proses penyulingan dengan air, bahan berhubungan langsung dengan air yang mendidih. Bahan yang disuling direbus dengan air di dalam ketel penyuling. Uap air akan menguap dengan membawa uap minyak asiri yang dikamdung oleh bahan yang disuling. Uap ini kemudian dialirkan melalui sebuah pipa yang berhubungan dengan kondensor (pendingin), sehingga uap berubah jadi air kembali. Cairan campuran antara air dan minyak, hal ini disebabkan karena perbedaan berat jenisnya (Suseno, 1986).
Hasil minyak yang diperoleh dalam penyulingan biasanya berbanding terbalik dengan ukuran besarnya ketel. Ketel yang berkapasitas kecil hasil yang lebih yang lebih banyak dibandingkan dengan ketel yang berkapasitas besar. Hal ini disebabkan uap panas yang dialirkan untuk memanaskan bahan akan lebih merata, jika dibandingkan dengan ketel ukuran besar (Meltitz, 1967).

BAHAN SELENGKAPNYA DAN DAFTAR PUSTAKA SILAHKAN DOWNLOAD DIBAWAH
Password: kuliahitukeren.blogspot.com

EVAPORASI laporan pratikum pertanian

I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Evaporasi ialah untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam kebanyakan proses evaporasi pelarutnya adalah air. Evaporasi dilaksanakan dengan menguapkan sebagian dari pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi.
Walaupun cairan encer yang diumpankan kedalam evaporator mungkin cukup encer sehingga beberapa sifat fisiknya sama dengan air, tetapi jika konsentrasinya meningkat, larutan itu akan makin bersifat individual. Densitas dan viskositasnya makin meningkat bersamaan dengan kandungan zat padatnya, hingga larutan itu menjadi jenuh atau jika tidak menjadi terlalu lamban sehingga taidak dapat melakukan perpindahan kalor yang memadai. Jika zat cair jenuh didihkan terus, maka akan terjadi pembentukan kristal dan kristal-kristal ini harus dipisahkan karena bisa menyebabkan tabung evaporator tersumbat. Titik didih larutan dapat meningkat dengan cepat bila kandungan zat padatnya bertambah, sehingga suhu didih larutan jenuh mungkin jauh lebih tinggi dari titik didih air pada tekanan yang sama.


B. Tujuan Praktikum
·         Mengetahui cara kerja dan pengertian dari proses evaporasi dan mengamati bau, warna, dan mengukur total solid konsentrasi.






II. Tinjauan Pustaka


Evaporasi secara terus menerus memerlukan pemindahan uap air dari permukaan sesikit ke atas, tanpa memindahkan udara disekitarnya, udara itu akan jenuh dengan uap air dan eveporasi akan berhenti. Keperluan kedua untuk evaporasi adalah suatu sumber panas. Permukaan menjadi dingin karena evaporasi. Penguapan air akan menurunkan suhu dan jika akan menurunkan tekanan uap air jenuh. Bila tidak ada sumber panas, Kesetimbangan tidak lam dicapai dan evaporasi berhenti. (Polunin, 1960).

Perpimdahan panas dibutuhkan dalam pengeringan benih, karena benih hanya dapat dikeringkan dengan mengevaporasikan uap air dan permukaannya. Syarat pengeringan benih adalah evaporasi uap air dari bagian dalam permukaan benih harus di ikuti ole perpindahan uap air yang menyebabkan uap air dari dalam bergerak ke permukaan benih. (Dennis, 2001).

Jika udara yang masuk tidak kering atau jika udara yang meninggalkan ruangan oleh pengering tidak jenuh dengan uap air, maka jumlah volume udara yang diperlukan untuk memanaskan bahan pangan ialah sebanyak 5-7 kali. Jumlah udara yang diperlukan untuk membawa uap air dari bahan pangan. Kapasitas uap air dari udara bergantung pada suhu. (Syarief, 1993).

Evaporasi dilaksanakan dengan menguapkan sebagian dari pelarut sehingga di dapatkan zat cair yang pekat yang konsentrasinya merupakan produk yang berharga dan upaya di kondensasikan dan dibuang. Contohnya pembuatan produk sirup sampai mengalami proses karamensasi, alat yang menjalankan  mekanisme kerja evaporasi dinamakan evaporation. (Sugitno, 1989).

BAHAN SELENGKAPNYA DAN DAFTAR PUSTAKA SILAHKAN DOWNLOAD DIBAWAH
Password: kuliahitukeren.blogspot.com


PEMISAHAN MEKANIS laporan pratikum pertanian

I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pemisahan mekanis merupakan suatu cara pemisahan antar dua komponen atau lebih yang dilakukan dengan cara mekanis. Dalam praktek pemisahan tersebut dapat dilakukan dengan sedimentasi (pengendapan), sentrifugasi dan filtrasi (penyaringan) dan lain sebagainya. Pemisahan antara dua komponen yaitu antara cairan dengan cairan yang tidak saling melarutkan atau cairan dengan padatan yang terdispersi didalamnya dapat dilakukan dengan pengendapat atau sendimentasi tergantung pada pengaruh gravitasi terhadap kedua komponen tersebut. Pada sedimentasi antara partikel dipisahkan berdasarkan perbedaan densitas melalui suatu medium alat. Pada sentrifugasi pemisahan antara partikel padat dancair terjadi karena perbedaan ukuran partikel massa sedang pada filtrasi pemisahan antara partikel padat dan cair terjadi karena perbedaan ukuran partikel yang dilewatkan melalui medium berpori


B. Tujuan Praktikum
·         Untuk mengetahui cara pemisahan antara dua komponen melaui sendimentasi, sentrifigasi dan filtrasi.
·         Untuk menghitung kecepatan Sedimentasi dan sentrifigasi.









II. Tinjauan Pustaka



Pemisahan antara dua komponen yaitu antara cairan dengan cairan yang tidak saling melarutkan atau cairan dengan padatan yang terdispersi didalamnya dapat dilakukan dengan pengendapat atau sendimentasi tergantung pada pengaruh gravitasi terhadap kedua komponen tersebut. Akan tetapi sering kali pemisahan dengan cara tersebut memerlukan waktu yang lama, atau terjadi sangat lambat (Suharto, 1991).
Pemisahan mekanis merupakan suatu cara pemisahan antar dua komponen atau lebih yang dilakukan dengan cara mekanis. Dalam praktek pemisahan tersebut dapat dilakukan dengan sedimentasi (pengendapan), sentrifugasi dan filtrasi (penyaringan) dan lain sebagainya. Pada sedimentasi antar partikel dipisahkan berdasarkan densitas, melalui suatu medium alir. Pada sentrifugasi pemisahan antar partikel terjadi karena perbedaan massa partikel.Sedangkan pada filtrasi pemisahan antar partikel padat dan cair terjadi karena perbedaan ukuran partikel yang dilewatkan melalui medium berpori (Earle, 1969).
Proses pemisahan dapat diterangkan sebagai proses perpindahan massa. Proses pemisahan sendiri dapat diklasifikasikan menjadi proses pemisahan secara mekanis atau kimiawi. Pemilihan jenis proses yang digunakan kapanpun memungkinkan karena biaya operasinya mudah dari pemisahan secara kimiawi. Untuk campuran yang tidak dapat dipisahkan melalui pemisahan mekanis (Seperti pemisahan minyak bumi), Proses kimiawi harus dilakukan (Surakarta, 2003).
Pada sedimentasi antara partikel dipisahkan berdasarkan perbedaan densitas melalui suatu medium alat. Pada sentrifugasi pemisahan antara partikel padat dancair terjadi karena perbedaan ukuran partikel massa sedang pada filtrasi pemisahan antara partikel padat dan cair terjadi karena perbedaan ukuran partikel yang dilewatkan melalui medium berpori (Sayitro, 1989).
BAHAN SELENGKAPNYA DAN DAFTAR PUSTAKA SILAHKAN DOWNLOAD DIBAWAH
Password: kuliahitukeren.blogspot.com

PENGECILAN UKURAN BAHAN laporan pratikum pertanian

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Operasi pengecilan ukuran ini dapat dibagi dua katagori utama, tergantung kepada apakah bahan tersebut bahan cair atau bahan padat. Apabila bahan padat, oprasi pengecilan disebut penghacuran dan pemotongan, dan apabila bahan cair tersebut emuisifikasi atau otomisasi. Penghancuran dan pemotongan mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitu proses penghancuran yang paling luas di dalam industri pangan barang kali adalah dalam penggilingan butir-butir gandum menjadi tepung, penggilingan gula dan penggilingan bahan pengan lainnya seperti sayuran.
Pengecilan ukuran sebagai istilah yang umum meliputi juga pemotongan, pemecahan dan penggilingan. Pengecilan ukuran secara mekanis tampa terjadi sifat-sifat kimianya. Pengecilan ukuran banyak digunakan dalam industri pangan sering tidaknya memprole bagian yang dikehendak, misalnya penggilingan padi-padian, pengupasan buah-buahan, penggilingan tangkai buah, pengirisan ikan menjadi fallet, pengecilan zat padat menjadi bagian-bagian yang lebih kecil guna untuk mempertinggi daya kelezatan dan mempertinggi daya campur.

B. Tujuan Praktikum
·         Untuk mengurangi ukuran bahan ukuran bahan dengan kerja mekanis membaginya menjadi bagian-bagian kecil
·          Untuk mengetahui perbedaan pengecilan  yang ekstrim dengan  pengecilan yang hasilnya masih berukuran besar
·         Menghitung % Rendemen.



II. Tinjauan Pustaka

Dalam pengecilan ukuran meliputi tatacara pemecahan, pemotongan dan penggilingan. Pengecilan ukuran dilakukan secara mekanis tanpa harus mengalami perubahan sifat-sifat kimianya. Bahan mentah lebih sering besar dari pada kebutuhan sehingga ukuran bhan harus diperkecil. Salah satu pengecilan ukuran tersebut dengan mengoyakkan atau mencincangnya. Secara pasti didalam proses ini adanya penekanan dari gaya-gaya mekanis dari mesin penggiling penekanan awal masuk ketengahan bahan sebgai energi desakan (Gillan, 1950).
Biasanya pada bahan mentah sering berukuran lebih besar dari pada kebutuhannya sehingga ukuran bahan ini harus diperkecil. Didalam operasi bahan ini dapat bibagi dua kotangan utama, tergantung pada kategori bahan tersebut baik itu bahan cair maupun campuran. Apabila bahan cair sering disebut enufikasi atau atomisasi. Pengukuran dan pemotongan dalam mengurangi ukuran padat dengan cara mekanis yaitu dengan membaginya dengan partikel-partikel yang lebih kecil. Sedangkan pada bahan padat operasi pengecilan disebut juga dengan cara penghancuran dan pemotongan (Earle, 1982).
Pengecilan ukuran sebagai istilah yang umum meliputi juga pemotongan, pemecahan dari penggilingan pengecilan ukuran sacara mekanis tanpa tejadi perubahan sifat-sifat kimianya. Pengecilan ukuran banyak digunakan dalam industri pangan sering tidak hanya memperoleh bagian yang dikehendaki, misalnya penggilingan padi-padian, pengupasan buah-buahan, penggilingan tangkai buah, pengirisan ikan menjadi fallet, pengecilan zat padat menjadi bagian-bagian yang lebih kecil guna untuk mempertinggi daya kezatan dan mempertinggi daya campur ( Warven, 1993).
Pengaolahan ukuran mungkin juga berperan pentinga dalam pemisahan secara mekanis. Misalnya, dalam pengambilan pati dari kentang, kentang harus lebih dahulu dikecilkan sedemikian rupa sehingga sel-selnya terbuka dan glanuar-glanuar pati keluar. Untuk memeperoleh cairan keluar dari padatan juga memudahkan jika padatan dilakukan pengecilan lebih dahulu. Tujuan pengecilan ukuran sebagai bagian operasi adalah untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas ( Saputra, 1986)

BAHAN SELENGKAPNYA DAN DAFTAR PUSTAKA SILAHKAN DOWNLOAD DIBAWAH
Password: kuliahitukeren.blogspot.com


MAKALAH SIFAT FISIK BAHAN laporan pratikum pertanian 2

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sifat fisik dari produkfisik dari pertanian sangat diperhatikan dalam penanganan pascapanen, terutama dalam kegiatan sortasi maupun grading (pemutuan). Sifat fisik dari produk pertanian terdiri daei berat, vlume, bentuk, warna, tekstur, berat, jenis dan kadar air. Dimana sifat fisisk tersebut berat dan volume biasanya dipakai untuk pemutuan buah berdasarkan kuantitas. Dalam kegiatan pascapanen lainnya seperti pengemasan dan pengangkutan, sifat fisik sangat diperhatikan.Sifat fisik bahan sangat berhubungan dengan pengelolaan bahan pangan secara meknis, banyak jenis pakar yang profesional telah direkomendasikan oleh ahli nutrisi dalam bentuk formula. Sifat fisik bahan dapat langsung diamati tanpa adanya reaksi kimia, sedangkan sifat fisik kimia hanya dapat diamati dengan terjadinya perubahan warna, suhu, pembentukan endapan atau pembentukan gas. 

B. Tujuan Praktikum
·         Untuk menentukan volume dan berat jenis bahan dengan metode perhitungan
·         Untuk mengukur volume dan berat jenis bahan pangan dan hasil pertanian dengan metode platform scale
·         Untuk mengukur diameter dan tinggi bahan.






II. TINJAUAN PUSTAKA


Sifat fisik bahan sangat berhubungan dengan pengelolaan bahan pangan secara meknis, banyak jenis pakar yang profesional telah direkomendasikan oleh ahli nutrisi dalam bentuk formula. Sifat fisik bahan dapat langsung diamati tanpa adanya reaksi kimia, sedangkan sifat fisik kimia hanya dapat diamati dengan terjadinya perubahan warna, suhu, pembentukan endapan atau pembentukan gas (Mardjuki, 1990).

            Sifat fisik suatu bahan dapat langsung diamati tanpa adanya reaksi kimia, sedangkan sifat-sifat fisik kimia hanya dapat diamati dengan terjadinya perubahan warna, suhu, pembentukan endapan, atau pembentukan gas. Sifat fisik kimia protein dari lemak selama pengolahan, perubahan protein selama perubahan. Perubahan protein selama pengolahan sifat fisik sangat berhubungan dengan kondisi dan pergerakan benda dan dengan aliran transportasi energi (Dewi, 1998).

            Sifat fisik bahan makanan ternak sangat berpengaruh dalam proses pengelolaan bahan pangan. Banyak jenis pakar yang profesional telah di rekomendasikan oleh ahli nutrisi dalam bentuk formula. Sifat fisik bahan ini sangat berhubungan degan pengelolaan bahan pangan secara mekanis, sekurang-kurangnya ada enam sifat fisik bahan yaitu keterapan himpunan beberapa pemekaran tumbuhan, berat jenis, sudut himpunan, daya ambang dan higroskopis (Marven, 1993).

            Karakteristik mudu buah dikelompokkan menjadi dua yaitu mutu eksternal terdiri atas warna, ukuran, bentuk, cacat fisik, tekstur dan flacor. Mutu eksternal dipengaruhi oleh faktro iklim seperti angin, curah hujan, kelembaban, cahaya, suhu, elevansi dan sifat atau kondisi tanah. Sedangkan mutu eksternal terdri atas tekstur, flavor, kandungan zat gizi, toksikan, dan jasad remik, dipengaruhi oleh faktor non iklim seperti varietas, batang bawah, tingkat ketuaan saat petik, kandungan mineral, penyemprotan zat kimia, irigasi, serangan hama dan penyakit, jarak tanam, serta pengaman panen dan pasca panen (Syaifullah, 1996).

BAHAN SELENGKAPNYA DAN DAFTAR PUSTAKA SILAHKAN DOWNLOAD DIBAWAH
Password: kuliahitukeren.blogspot.com

MAKALAH SIFAT FISIK BAHAN laporan pratikum pertanian 1

I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Sifat fisik bahan yang berpengaruh terhadap desain hoper adalah angle of repose. Sifat ini adalah saifat teknik dari suatu bahan yang berbentuk granular. Jika suatu bentuk bahan granular dituang dalam suatu permukaan horizontal maka akan berbentuk suatu gundukan berbentuk kerucut. Sudut antara permukaan horizontal inilah yang disebut dengan angle of repose.
Sifat fisik buah dan sayur sering diamati yaitu warna, aroma, rasa, bentuk, berat, ukuran dan kekerasan. Biasanya dalam praktek sehari-hari. Sifat fisik ini diamati secara subjektif, sedangkan berat ditentukan secara objektif dengan menggunakan timbangan sedangkan ujicoba kimia dapat dilakukan terhadap PH, total asam, padatan terlarut (soloble solid), dan vitamin C.
Bahan pertanian yang bervariasi bentuknya sangat susah dihitung dengan persamaan tiap-tiap buah dan sayuran memiliki sifat fisik yang berbeda. Perbedaan tingkat kematangan juga menyebabkan berbedanya sifat fisik dan kimia, fermentasi, radiasi dan perlakuan lainnyadari semua proses. Dan pemanasan merupakan proses yang paling banyak diterapkan.

B. Tujuan Praktikum
·         Membandingkan hasil setiap bahan dengan mengggunakan rumus tangen untuk menentukan sudut yang terbentuk pada pengukuran static angle of repose.
·         Membandingkan hasil setiap bahan pada pengukuran builk density.






II. Tinjauan Pustaka


Densitas merupakan jumlah massa persatuan volum. Sementara densitas bulk adalah hitungan kotor berat jenis secara total atau rata-rata persatuan. Penentuan densitas bulk bisa dengan menggunakan aplikasi sinar gamma. Sinar gamma yang dimaksud adalah sinar gamma yang bisa kita analisa untuk menghitung densitas yaitu efek hamburan copmton dan efek serapan fotolisarile. Sebagai aturan dasar adalah semakin banyak kandungan elektron suatu materi maka semakin tinggi nilai densitas meteri tersebut. (Gillan, 1993).
Sifat fisik buah dan sayur sering diamati yaitu warna, aroma, rasa, bentuk, berat, ukuran dan kekerasan. Biasanya dalam praktek sehari-hari. Sifat fisik ini diamati secara subjektif, sedangkan berat ditentukan secara objektif dengan menggunakan timbangan sedangkan ujicoba kimia dapat dilakukan terhadap PH, total asam, padatan terlarut (soloble solid), dan vitamin C, apabila buah-buahan menjadi matang, maka kandungan gulanya meningkat, tapi kandungan asamnya menurun. (Winarno, 2002).
Bahan pertanian yang bervariasi bentuknya sangat susah dihitung dengan persamaan tiap-tiap buah dan sayuran memiliki sifat fisik yang berbeda. Perbedaan tingkat kematangan juga menyebabkan berbedanya sifat fisik dan kimia, fermentasi, radiasi dan perlakuan lainnyadari semua proses. Dan pemanasan merupakan proses yang paling banyak diterapkan. (Astawan, 1999)
Pemilihan bahan baku hasil tanaman harus memperhatikan proses masak dan tuanya hasil tanaman. Hal ini untuk menghindari kesalahan dalam memilih bahan baku, seperti masih terlalu muda atau sudah kelewat masak sehingga akan menurunkan kualitas produk. Proses menjadi masak dan tuanya hasil tanaman banyak dihubungkan dengan timbulnya etilena perubahan zat-zat tertentu dan perubahan fisik hasil tanaman. (Pastastico, 1975).

BAHAN SELENGKAPNYA DAN DAFTAR PUSTAKA SILAHKAN DOWNLOAD DIBAWAH
Password: kuliahitukeren.blogspot.com

Makalah Teknik Pengemasan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kayu adalah suatu hasil alam pada kebanyakan kasus digunakan dalam keadaan almiahnya. Kayu hanya perlu diolah menjadi bentuk yang sesuai untuk penggunan praktis. Kayu banyak digunakan sebagai bahan bangunan , bahan bakar, dan alat yang digunakan manusia sejak awal sejarahnya. Sekarang bahan ini mempunyai daya tarik terbesar bagi manusia dan banyak dipakai manusia dalam lingkungannya. Kebutuhan dan daya tarik akan bahan ini kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahan lain, seperti plastic, dimana pola tiruan dan efek kayu dapat dibentuk dengan biaya yang lebih murah.
Kayu terbentuk dari sel-sel yang terikat menjadi satu oleh semen alam yang disebut lignin. Sel-sel ini pada dasarnya memiliki sifat berkembang dengan ukuran dan bentuk yang bermacam-macam tergantung pada fungsinya. Hampir semua sel tersebut memanjang dengan posisi vertical dalam batang pohon. Sel-sel ini kemudian dikenal sebagai serat pada batang kayu yang keras dan serat halus pada kayu lembut. Sel batang pohon ini memiliki ukuran yang bermacam-macam mulai dari panjang sekitar 1/25 sampai 1/3 inchi, dan lebar sekitar 1/100 panjangnya.
Kayu dan pohon yang menghasilkannya di bagi kedalam dua kategori: kayu keras dam kayu lunak. Secara botanis, pohon dari kayu keras berbeda dengan pohon dari kayu lunak. Keduanya termasuk di dalam divisi botani spermatophyta. Yang berarti tumbuh-tumbuhan berbiji. Dan terdapat dalam subdivisi yang berbeda. Kayu keras termasuk dalam subdivisi angiospermae, dan kayu lunak tergolong dalam subdivisi gymnospermae.
Pohon asli terbagi dan dapat diklasifikasikan atas dua kelompok, kayu keras ( hardwood ) dan kayu lunak ( softwood ). Istilah ini tidak mempunyai hubungan dengan kekerasan ataupun kelunakan batang kayu itu sendiri. Pada kenyataannya, beberapa kayu lunak lebih keras dibandingkan dengan kayu keras. Kayu keras dapat dikenali sebagai pohon yang memiliki daun yang lebar, sedangkan kayu lunak dapat dikenali melalui daun yang menyerupai jarum atau sisik.
Sifat fisik terpenting kayu adalah kerapatannya karenanya pengukuran dan hubunganya dengan sifat-sifat lain di tekankan. Sifat –sifat kekuatan kayu adalah paling penting apabila kayu di gunakan sebagai bahan bangunan atau kontruksi. Suatu penjelasan mengenai sifat-sifat mekanik (kekuatan) akan memberikan pengertian tentang sifat-sifat ini, yang penting bagi arsitek-arsitek kayu dalam rangcangan bangunan kayu.


1.2  Pokok-pokok Permasalahan
Adapun pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini meliputi :
  • Ukuran kayu dan ukuran standar kotak kayu
  • Ciri khas kotak kayu
  • Kapasitas kotak kayu (kg)


BAB II
PEMBAHASAN

            Kayu gergajian sering didefinisikan dalam perdagangan sebagai produk yang digergaji dari kayu bulat. Tetapi dalam penggunaan lebih umum, istilah tersebut dipakai untuk produk yang digergaji ke tebal standard an dibedakan dari bantalan jalan rel atau kayu pacakan yang dihasilkan denga mengiris pinggir kayu bulat pada dua atau empat sisinya. Kayu gergajian sering digolongkan sebagai papan,dimensi, atau kayu persegi.
            Sifat penggergajian kayu, besar relevansinya dengan mesin penggergajian untuk kayu pengemas. Pada sifat pengerjaan kayu dengan mesin terdapat pemotongan dan sudut jarak antara dua pemotongan (clearance) yang bersifat optimal. Untuk kayu lunak, khususnya pinus digunakan gergaji putar dengan 46 gigi, dan 25-300 sudut pengait (hook), 200 clearance serta 150 sudut lereng atas. Sedangkan kayu keras dengan densitas rendah sampai sedang, sifat pengerjaan kayunya adalah 54 roda gigi dengan sudut pengait 250, sudut clearance 150 dan sudut lereng atas 15 0.
            Kegunaan utama kayu gergajian kayu-keras berkualitas tinggi, adalah untuk perabot rumah tangga, pembuatan lantai berkualitas tinggi, produk pabrik dan cabinet atau almari barang. Kualitas yang lebih rendah digunakan untuk pembuatan lantai yang umum, palet dan kemasan, dan macam-macam penggunaan industri. Kayu gergajian kayu lunak dipergunakan terutama sebagai bahan bangunan gedung. Kayu lunak digunakan sebagai suku-suku bangunan dan untuk tujuan-tujaun dekoratif dan penyempurnaan terakhir seperti pembuatan panil, dinding sisi, lantai, bahan potongan luar dan pemuatan pintu dan jendela.
            Kotak kayu gergajian, bentuk kotak kayu gergajian yang akan dibahas disini adalah bentuk ‘box’ dan ‘case’. Terdapat 11 desain kotak, dengan pemuatan beban terendah sebesar 20-50 kg sampai pemuatan beban tertinggi yaitu 800 kg.

  1. Desain Dasar Kotak ( Basic box design 20-50 kg ).
Ukuran yang direkomendasikan untuk kotak jenis ini adalah 500 x 300 x 200 mm ( p x l x t ) dengan  tebal kayu sebesar 8/10 mm dan khusus komponen dasar  tebalnya 15mm untuk menjaga keseimbangan kekuatan.
           

  1. Combed Tenon Box ( 20-100 kg ).
Sisinya dilekatkan pada masing-masig ujungnya dengan ‘combing’ ( tenon ) dan direkat dengan perekat eksternal. Penggabungan dua sisi pada ujung sisi ini bisa juga merupakan metoda ‘tongue and groove’ model ini diaplikasikan pada kotak ‘create’ untuk minuman atau ‘field box’ untuk buah-buahan dan sayur. Ukuran panjang, lebar dantinggi yang biasa digunakan adalah 600 x 400 x 300 mm dengan ketebalan kayu sekitar 15 – 20 mm untuk semua sisi kotak.
           

  1. Internally Battened Box ( 30 – 100 kg ).
Merupakan modifikasi dari jenis kotak dasar, tetapi didalamnya dilengkapi dengan pengikat segitiga atau segi empat yang dilekatkan pada sudut-sudut bagian dalam kotak. Ukuran maksimal yang direkomendasikan adalah 600 x 400 x 300 mm ( p x l x t ) dengan tebal kayu 10 – 15 mm, battened 35 x 35 mm ( p x l ).
                                   

  1. Kotak dengan pengikat ujung ( Battened End Box, 50 – 30 kg ).
Model ujung pengikat luar terdiri dari dua pengikat vertical pada tiap ujung (lebih panjang dari ujung panel ), tetapi tidak dilengkapi dengan pengikat yang mengelilingi kotak. Kekuatan sudut akan bertambah dan kekuatan pemakuan pada ujung jaringan berkurang. Ukuran standar kotak adalah maksimal 1000 x 750 x 750 mm dengan tebal 18 – 23 mm dan pengikat 20 x 60 mm.
                       

  1. Kotak dengan panel ujung ( Paneled End Box, 50 – 400 kg ).
Model ini dilengkapi dengan pengikat ujung bagian atas dan bawah. Untuk limit beban yang tinggi, dasar kotak harus dilekatkan dengan menggunakan paku ‘annular’ dan kayu dengan densitas rendah sebaiknya tidak digunakan untuk mendapatkan pengikat yang lebih baik. Ukuran standar adalah maksiamal 1000 x 750 x 750 mm, pengikat 20 x 60 mm.
                                   

  1. Battened Top/Bace case ( 50 – 350 kg ).
Hampir sama dengan kotak pengikat ujung tetapi dilengkapi dengan pengikat pada penutup kotak dan dasar kotak. Pengikat pada dasr kotak dengan tebal 90 mm digunakan untuk memudahkan gerakan perpidahan kotak. Ukuran standarnya adalah 1500 x 1000 x 750 mm,maksimal dengan tebal papan sisi 18 – 23 mm.
                                   

  1. Kotak dengan pengikat keliling ( Birth Battened Case, 100 – 400 kg ).
Terdiri dari dua set pengikat keliling dengan pengikat dasar yang tebalnya 90 mm untuk penanganan secara mekanis. Daya kompresi dan kekuatan retak yang baik akan diperoleh bila digunakan paku jenis ‘annular’. Ukuran standar adalah 2000 x 1000 x 1000 mm maksimal, tebal papan sisi 18 – 23 mm.
           

  1. Kotak panel dan pengikat keliling ( Girth Battened & Panelled case, maksimum 500 kg ).
Seperti kotak dengan pegikat keliling, tetapi dilengkapi dengan panel-panel pada ujung kotak. Panel tersebut memberikan daya tahan yang baik terhadap kekuatan internal dan kekuatan eksternal. Ukuran standarnya adalah maksimal 2000 x 1000 x 1000 mm,tebal papan sisi 18 – 23 mm.
                                   

  1. Kotak panel dengan tiga pengikat ( Triple battening & paneled case, 700 kg ).
Model ini untuk total kandungan berat yang lebih panjang dengan pegikat cincin berlebih. Untuk beban-beban yang lebih panjang dari 2500 mm, dapat ditambahkan pengikat diagonal sepanjang garis. Ukuran standar maksimal adalah 2500 x 1200 x 1200 mm, tebal 21 – 23 mm, tebal dan pengikat dasar minimal 80mm.

  1. Tiga pengikat dengan ceruk panel ( Triple Battened with Recessed Panel, 800 kg ).
Pengikat vertical dan horizontal digabung bersama membentuk ceruk. Merupakan model pengembangan model sebelumnya. Ukuran terekomendasi adalah 2500 x 1200 x 1200 mm maksimal, tebal 21 – 23 mm dengan pengikat dasar setebal 75 mm.
                                   

  1. Girth Battened Sigle Braced Case ( 450 kg ).
Sama dengan kotak pengikat keliling tetapi daya tahan distrorsinya terhadap kekuatan luar lebih besar. Ukuran standar 2000 x 1000 x 1000 mm maksimal, tebal 18 – 23 mm.
                                   
Karakteristik struktur akan berbeda dari satu jenis ke kayu jenis lainnya, meskipun umumnya memiliki persamaan juga untuk semua jenis kayu. Dibandingkan dengan bahan jenis lain, maka kayu biasanya lebih lunak sehungga lebih lentur. Kayu lebih mudah dipotong dan dibentuk. Kayu memberikan kehangatan dan sensasi tersendiri terhadap kulit manusia dan memberikan kesan khusus bila digunakan oleh manusia. Disebabkan karakteristik khusus yang dimilikinya, serta adanya celah ruang antara sel-selnya, maka kayu tidak dapat meneruskan panas ( konduktor ), sebaliknya menjadi penghambat panas (isolator).
Apabila kontak langsung dengan udara, maka permukaan kayu akan berubah menjadi bewarna lebih muda atau abu-abu. Apabila berhubungan dengan siklus pembasahan dan pengeringan, maka permukaan akan memperlihatkan gejala kerusakan dan keretakan.
Ciri-ciri kestabilan dimensi kebanyakan produk-produk kayu gergajian sangat  sesuai dengan nilai-nilai yang tidak di tahan untuk kayu. produk-produk seperti perabot rumah tangga kayu utuh, produk-produk pabrik, balok berlapis, dan kayu gergajian bangunan,semua berkelakuan serupa dalam hal  penyusutan  radial, tangensial dan longitudinal. Hasil hutan yang di hasilkan dari finir,partikel dan serat, sebaliknya mempunyai kelakuan dimensi yang unik pada perubahan kandungan air. Perbedaan dengan kayu utuh ini pada dasarnya akibat dari tiga sebab: tingkat penahanan terhadap pengembangan pengembangan yang di berikan oleh suatu unsur dalam produk kepada unsure-unsur yang lain dalam produk tersebut, tingkat penekanan atau pemampatan yang di alami unsure-unsur kayu (finir, psrtikel,atau masing-masing serat) selama pembuatan produk, dan pengaruh pereket pada bahan-bahan tambahan lain pada kemampuan unsur-unsur untuk menaggapi secara dimensional perubahan kandungan air.
Kekuatan dan ketahanan terhadap perubahan bentuk suatu bahan si sebut sebagai sifat-sifat mekaniknya, kekuatan adalah kemampuan suatu bahan untuk memiliki beban atau gaya yang mengenainya. Ketahanan terhadap perubahan bentuk menentukan banyaknya bahan yang di mampatkan, terpuntir atau terlengkungkan oleh suatu beban yang mengenainya. Perubahan –perubahan yang terjadi segera sesudah beban di kenakan dan dapat di pulihkan jika beban di hilangkan di sebut perubahan bentuk elastis.


BAB III
KESIMPULAN

Setelah ditinjau dari berbagai aspek, penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan dari hasil penulisan makalah ini, antara lain:
·         Kayu yang cocok untuk pengemasan umumnya adalah jenis kayu lunak   ( soft wood ) seperti pinus sp. Atau agathis sp. dengan densitas antara 270 – 700 kg/m3.
·         Sifat –sifat kekuatan kayu adalah paling penting apabila kayu di gunakan sebagai bahan bangunan atau kontruksi.
  • Ketahanan terhadap perubahan bentuk menentukan banyaknya bahan yang di mampatkan, terpuntir atau terlengkungkan oleh suatu beban yang mengenainya.
  • Kayu lunak digunakan sebagai suku-suku bangunan dan untuk tujuan-tujaun dekoratif dan penyempurnaan terakhir seperti pembuatan panil, dinding sisi, lantai, bahan potongan luar dan pemuatan pintu dan jendela.
  • Kegunaan utama kayu gergajian kayu-keras berkualitas tinggi, adalah untuk perabot rumah tangga, pembuatan lantai berkualitas tinggi, produk pabrik dan cabinet atau almari barang. Kualitas yang lebih rendah digunakan untuk pembuatan lantai yang umum, palet dan kemasan, dan macam-macam penggunaan industri.
  • Pada sifat pengerjaan kayu dengan mesin terdapat pemotongan dan sudut jarak antara dua pemotongan (clearance) yang bersifat optimal.
  • Kayu banyak digunakan sebagai bahan bangunan , bahan bakar, dan alat yang digunakan manusia sejak awal sejarahnya. Sekarang bahan ini mempunyai daya tarik terbesar bagi manusia dan banyak dipakai manusia dalam lingkungannya.


BAHAN SELENGKAPNYA DAN DAFTAR PUSTAKA SILAHKAN DOWNLOAD DIBAWAH
Password: kuliahitukeren.blogspot.com

Alat Penyiangan


I. PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang
Kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian saat ini menjadi masalah yang menghambat produktifitas hasil pertanian. Keadaan ini disebabkan karena kesempatan kerja diluar sektor pertanian cukup luas, lebih menarik serta menawarkan pendapatan yang lebih baik dan profesi sebagai petani masih mengandung pandangan yang kurang baik bagi masyarakat. Dengan kurangnya tenaga kerja di sektor pertanian, secara tidak langsung mengakibatkan mahalnya upah kerja yang harus dibayar oleh petani. Masalah ini sudah ditanggulangi oleh pemerintah dengan penerapan mekanisasi pertanian. Salah satu penggunaan alat mekanisasi pertanian yang tidak kalah pentingnya adalah pada saat penyiangan padi sawah.
Tumbuhan pengganggu (gulma) merupakan suatu penyebab utama rendahnya produksi padi. Gulma dapat mengurangi produksi padi sawah 17 % dan padi gogo  40 %, karena bersaing dalam hal pengambilan  unsur hara, sinar matahari, udara dan ruang. Selain mengurangi kuantitas maupun kualitas hasil, gulma juga dapat bertindak  sebagai inang bagi hama penyakit. Selain itu juga dapat menambah ongkos tenaga kerja. Oleh karena itu gulma perlu disiang, pada umumnya penyiangan dilakukan petani secara manual ataupun kimia, tergantung biaya tenaga kerja.
Selain cara pengendalian di atas, gulma juga dapat diatasi melalui persiapan tanah  yang baik, multiple cropping, dan pengaturan barisan tanaman yang baik. Namun yang sering dilakukan adalah kombinasi  penggunan herbisida  yang tidak mahal dan penanganan secara manual (hand weeding). Pengendalian gulma sangat penting agar penggunaan pupuk untuk tanaman padi tidak sia-sia. Untuk meningkatkan hasil, pengendalian gulma harus dilakukan sebelum pemupukan. Biasanya pengendalian gulma  di lahan irigasi atau lahan sawah lebih mudah  dibandingkan di lahan kering, karena pada lahan kering kelembaban tanahnya sangat cocok untuk pertumbuhan dan pekembangan gulma, terutama pada periode awal pertumbuhan tanaman padi. Sedangkan pada lahan irigasi (digenangi air) persoalan gulma tidak terlalu berat karena penggenangan merupakan cara yang sangat efektif untuk menekan perkembangan gulma.  Lagi pula dilahan kering banyak jenis rumput yang sulit dikendalikan dengan herbisida, seperti rumput teki (Cyperus rotundus).
B. Tujuan Pembuatan Makalah
Pembuatan Makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas mata kuliah Mesin dan Peralatan Pertanian. Namun isi makalah ini lebih bersifat memberikan informasi kepada pembaca tentang alat penyiang yang digunakan pada kegiatan pertanian.
II. ISI
Penyiangan secara manual memerlukan curahan tenaga kerja yang besar  dan terbatasi oleh ketersediannya. Banyak daerah telah mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja pertanian, karena terjadinya pergeseran tenaga kerja ke sektor jasa dan industri. Di samping itu, ada kecendrungan upah buruh tani meningkat. Oleh karena itu, perlu adanya suatu mesin penyiang bermotor yang mempunyai kapasitas kerja cukup tinggi guna memecahkan masalah terjadinya kelangkaan tenaga kerja pedesaan yang dimanifestasikan oleh kenaikan tingkat upah dan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian.
Dalam penerapan alat dan mesin pertanian diIndonesia masih banyak kendala yang ditemui, antara lain: harga yang masih relatif tinggi, keterampilan (skill) yang masih rendah dalam pengopersikan dan perawatan, pengetahuan manajaemen yang terbatas, serta luas lahan penggarapan yang sempit. Sementara itu sering ditemui bahwa suatu alat dan mesin pertanian hanya digunakan untuk menyelesaikan satu  tahapan kerja tertentu saja, kemudian alat dan mesin tersebut menganggur sampai tiba pada waktunya untuk melakukan suatu pekerjaan yang sama pada musim berikutnya. Akibatnya jam kerja per tahun dari alat dan mesin tersebut rendah dan merupakan suatu kerugian bagi pemiliknya, oleh kaena itu perlu upaya untuk mengatasinya. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan menambah kegunaan dari alat dan mesin pertanian tersebut, seperti pada mesin pemotong rumput dimana selain dapat memotong rumput alat ini bisa dimodifikasi dan dikembangkan menjadi alat penyiang padi sawah. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam penyiang padi sawah maka diperlukan suatu mata penyiang yang paling efektif guna meringankan kerja petani.
III. PEMBAHASAN


A. Alat Penyiang Tipe Manual
1.      Rancangan Fungsional
Alat penyiang padi dengan memanfaatkan mesin potong rumput ini memiliki bentuk dan konsep yang cukup sederhana. Adapun bagian-bagian dari rancangan  mata penyiang dari alat penyiang padi ini yang memiliki fungsi tersendiri   diantaranya yaitu :
a.      Piring penyiang
Piring pada alat penyiang berfungsi sebagai pemutar dan tempat menempelnya paku-paku penyiang dan menghubungkannya dengan sumber tenaga putaran, piring penyiang ini akan berputar berlawanan  arah jarum jam.
b.      Paku penyiang
Pada saat operasional, mata penyiang berputar, bagian yang tajam pada ujung paku penyiang akan memotong gulma, selanjutnya akan menghancurkan tanah yang ada dibawahnya. Sehingga akan diperoleh tanah yang mempunyai porositas yang baik.

2.  Rancangan Struktural
Dalam rancangan struktural bentuk dan ukuran dari mata penyiang alat penyiang yang dirancang disesuaikan dengan pelindung alat penyiang dan jarak dari tanaman padi di lapangan. Rancangan mata penyiang alat penyiang padi ini memiliki 3  bagian penting yaitu :

a.      Piring penyiang
Bentuk dari piring penyiang akan dibuat dua macam, yaitu  berbentuk lingkaran dan berbentuk palang, dengan tebal besi plat 2 mm. Diameter luar piring penyiang dan panjang palang disesuaikan dengan pelindung alat penyiang dan jarak tanaman padi. Untuk piring penyiang dengan bentuk lingkaran diameter luarnya 14 cm dan diameter dalam atau diameter lubang tengahnya 2 cm, sedangkan diameter lubang  tiap-tiap pakunya adalah 0,5 cm seperti pada Lampiran 5. Untuk piringan yang berbentuk palang panjangnya sama dengan diameter luar mata penyiang bentuk lingkaran yaitu 14 cm dan lebar masing-masing sisi palangnya adalah 4 cm.
b.      Jarak dan jumlah paku penyiang
Jarak antara paku-paku penyiang disesuaikan dengan diameter piring, jumlah paku penyiang dan letak paku penyiang dibuat acak untuk masing-masing mata penyiang. Jumlah pakunya  dibuat mulai dari 6, 8, 10, dan 12, sehingga nanti setelah uji di lapangan diketahui mana letak dan jumlah paku yang  paling efektif untuk penyiangan padi.
c.       Diameter dan tinggi paku penyiang
Paku-paku penyiang ini dibuat dengan menggunakan mor dan baut dengan diameter paku penyiang dibuat 0,5 cm. Paku penyiang ini dibuat dengan panjang  7 cm yang dipasang pada piring penyiang, dimana pada ujung paku penyiang dibengkokan dan ditajamkan.

3.   Kapasitas Kerja Teoritis
Kapasitas kerja teoritis pada mesin penyiang dilakukan dengan mengukur kecepatan kerja dan lebar kerja alat. Kapasitas kerja teoritis dipengaruhi oleh kecepatan operasi dan lebar kerja dari alat tersebut. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Hunt (1970), bahwa kapasitas kerja teoritis adalah kemampuan alat dalam menyelesaikan suatu pekerjaan pada sebidang lahan jika alat tesebut berjalan maju dengan sepenuh waktu (100 %) dan bekerja dengan lebar maksimum. Ketinggian genangan air pada lahan sawah juga sangat menentukan dalam kecepatan penyiangan.

4.   Kapasitas Kerja Efektif
Kapasitas kerja efektif mesin penyiang diketahui dengan mengukur luasnya lahan yang dapat dikerjakan dalan satuan waktu. Pengujian alat ini dilakukan sebanyak  8 buah luasan lahan dengan  tiga kali ulangan tiap luasan. Bila dibandingkan hasil yang diperoleh dari penyiangan dengan cara  manual, dan dengan mengunakan landak, maka mesin ini akan memberikan hasil yang lebih cepat. Hal ini disebabkan karena mesin berputar dengan tenaga yang cukup besar, dan pengoperasian mesin yang lebih mudah.

5.   Efisiensi Lapang
Efisiensi kerja merupakan fungsi dari kapasitas kerja efektif dan kapasitas kerja teoritis yang berhubungan erat dengan kecepatan maju dan lebar kerja alat dalam melakukan penyiangan. Efisiensi kerja untuk penyiangan padi dengan menggunakan mesin ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keadaan tanah, luas areal pertanaman, lebar baris tanaman dan keterampilan operator.

6.      Masalah Teknis
Secara tradisional petani melakukan penyiangan tanaman padi disawah dengan cara mencabut dengan tangan dan membenamkannya, walaupun persentase gulma yang tidak tersiangi sedikit, tetapi kelemahanya membutuhkan banyak waktu untuk penyiangan dan dari segi  ergonomik tidak nyaman karena penyiangannya dilakukan dengan cara membungkuk. Sedangkan penggunaan alat semi mekanis seperti  penggunaan landak kelebihannya penyianganya tidak membungkuk namun persentase gulma yang tidak tersiangi lebih banyak terutama disekitar rumpun padi dan pengoperasianya lebih lambat karena pengoperasianya didorong kemudian ditarik dan didorong lagi. Sedangkan pada alat penyiang dengan penggerak mesin potong rumput ini selain pengoperasianya lebih cepat juga persentase gulma tidak tersiangi lebih sedikit dibandingkan alat semi mekanis seperti landak.

7.      Masalah sosial ekonomis
Secara sosial penyiangan secara manual dan semi mekanis dapat menimbulkan kejerihan kerja serta membosankan, sedangkan dari segi ekonomis membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu sehingga banyak biaya yang dikeluarkan untuk penyiangan dibandingkan alat penyiang dengan menggunakan penggerak mesin potong rumput.

B. Alat Penyiang Tipe Mesin
Alat Penyiang Walking Type
Penyiangan menggunakan alat penyiang padi dengan penggerak mesin potong rumput saat ini sudah ada satu buah mata penyiang. Namun hasilnya kurang maksimal dan tidak efektif, dengan kapasitas kerjanya hanya 0,020 ha/jam. Selain itu gulma yang disiang tidak bersih dimana persentase gulma tidak tersiangi besar sekali yaitu 5,3 %, serta dalam pengoperasian di lapangan juga sedikit sulit karena ujung mata penyiang tumpul yang menimbulkan gesekan yang besar dengan tanah sehingga memberatkan kerja penyiangan. Oleh karena itu perlu adanya suatu bentuk mata penyiang padi yang cocok dan efektif digunakan untuk pekerjaan penyiang padi ini.
Dalam perencanaan timbul setelah melihat alat penyiang padi dengan menggunakan mesin pemotong rumput yang telah ada kurang maksimal, kapasitas kerjanya masih rendah  dan persentase gulma yang tidak tersiangi masih tinggi, maka perlu pengembangan ide untuk merancang suatu mata penyiang yang efektif dalam penyiangan tanaman padi. Dalam penyatuan konsep didapatkan delapan buah mata penyiang, empat berbentuk lingkaran dan empat berbentuk palang, dimana bentuk lingkaran dan palang ini penyusunan konfigurasi dan keseimbangannya lebih mudah dilakukan. Setelah itu baru dilakukan penggambaran, perakitan dan uji coba masing-masing mata penyiang di lapangan.


1.   Cara Penggunaan
Lahan harus tergenang air sekitar 5 cm dan berlumpur dengan kedalaman lapisan maksimum 25 cm (diukur dengan cara orang berdiri di lumpur). Jarak antar barisan tanaman harus benar-benar rata dan lurus sesuai dengan yang ditentukan, yaitu 20 cm.

2.   Tahap Penggunaan
1.   Baca buku petunjuk operasional secara seksama.
2.   Masukkan bensin campur dengan perbandingan 1:25 dan hidupkan mesin.
3.   Tempatkanlah unit power weeder pada tengahtangah alur tanaman padi (cakar kiri dan kanan berada pada ruang kosong diantara alur tanaman padi).
4.   Setelah mesin hidup, kembalikan posisi tuas gas ke idel (gas posisi rendah). Pada posisi ini putaran dari mesin tidak diteruskan ke poros utama dan otomatis cakar penyiang tidak berputar. Hal ini dikarenakan pada mesin terdapat kopling system sentrifugal, putaran dari mesin akan diteruskan bila rpm mesin cukup tinggi.
5.   Dengan posisi operator di belakang mesin penyiang sambil memegang kedua stang, mulai atur posisi gas menjadi tinggi sampai cakar penyiang berputar.
6.   Apabila kondisi lumpur cukup dalam dan piringan cakar penyiang terbenam naikkan posisi cakar penyiang, dengan cara menekan stang ke bawah (kaki pengapung sebagai bidang tumpu).
7.   Dengan menekan stang ke bawah dan kaki pengapung sebagai bidang tumpu adakalanya mengakibatkan cakar berputar di tempat, karena kaki pengapung terbenam ke dalam lumpur, bila hal ini terjadi angkatlah stang sampai mesin penyiang dapat berjalan ke depan.
8.   Mekanisme pengoperasian mesin penyiang padi sawah, sehingga dapat berjalan ke depan adalah terjadinya slip pada piringan cakar penyiang (slip berkisar 50 – 60%), slip inilah yang mengakibatkan lumpur padi sawah teraduk dan diharapkan gulma yang tumbuh di antara alur tanaman akan tercabut dan tergulung. 



BAHAN SELENGKAPNYA DAN DAFTAR PUSTAKA SILAHKAN DOWNLOAD DIBAWAH
Password: kuliahitukeren.blogspot.com

TEKNIK PENYIMPANAN KARUNG

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG
Penyimpanan karung bertujuan untuk memudahkan identifikasi stok bahan yang disimpan. Inspeksi dapat dilakukan setiap saat sehingga sanitasi dan control perubahan cuaca dapat lebih efektif. Aspek yang harus diperhatikan untuk peletakan tumpukan karung adalah system tumpukan dengan jumlah dan ukuran yang telah ditentukan yang disertai adanya fumigasi, menggunakan hamparan/palet/flonder untuk membantu sirkulasi udara dan mencegah kerusakan lantai, dan memperhatikan kapasitas gudang penyimpanannya.
Saat ini, fungsi utama penyimpanan secara ekonomis adalah mengurangi fluktuasi pasar. Suplai berlebih berbagai komoditi umumnya hanya terjadi beberapa bulan selama setahun, sementara permintaan konsumen boleh dikatakan cenderung tetap sepanjang tahun .Pada gudang Bulog, pola penyusunan karung yang biasa digunakan adalah kunci lima dan bata mati.


1.2  TUJUAN
Adapun tujuan dari percobaan peraktikumi ini untuk mengetahui cara penyusunan karung, dan pembuatan flonder.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Barier fisik yang dapat menghalangi serangga masuk system pascapanen berpotensi sebagai sarana pengendalian hama. Secara tradisional benih disimpan dalam gerabah, tabung bambu, atau labu kering kemudian disegel. Struktur penyimpanan tradisional juga selalu memperhatikan barier fisik anti hama. Sejalan dengan waktu, bahan untuk struktur penyimpanan juga berubah dari tanah liat atau kayu menjadi logam, plastic dan beton. (Indera, 2005).

System perawatan dengan sinar gamma merupakan alternative perawatan jangka panjang. Bulog telah mencobanya terhadap beras dengan alasan teknologi preservasi makanan dan bahan pangan dengan menggunakan radiasi radiasi sinar gamma Cobalt 60 telah digunakan untuk produk hortikultura, ternak, ikan, biji-bijian dan umbi-umbian. Di samping itu Departeman Kesehatan telah mengijinkan beberapa jenis makanan radiasi beredar dan dikonsumsi : rempah-rempah dengan dosis maksimum 10 (Kilogray) kGy, umbi-umbian dengan dosis maksimum 0,15 kGy, biji-bijian dengan dosis maksimum 1 kGy. (Kartasapoetra, 1988).

Walaupun sistem pascapanen merupakan sistem artifisial yang relatif tertutup dari lingkungan luar, organisme yang ada didalamnya cukup beragam dengan berbagai prilaku dan peran ekologi. Aktifitas yang dilakukan satu kelompok organisme mempengaruhi kelompok organisme lain. Campur tangan manusia, misalnya dalam praktik pengendalian hayati, juga menjadi penyebab keberadaan organisme tertentu dalam organisme tertentu dalam ekosistem penyimpanan. (Kartasapoetra, 1987).

Serangga di penyimpanan biji-bijian dan bahan simpan berpotensi merugikan karena merusak secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan langsung terjadi karena serangga makan bahan simpan, menyebabkan kontaminasi fisik maupun kimiawi, serta serangan terhadap kemasan, peralatan dan struktur penyimpanan. Kerusakan bisa semakin besar karena menyebabkan kerusakan tidak langsung seperti tumbuhnya cendawan dan kerusakan lainnya. Kerusakan akibat hama pascapanen dapat diartikan sebagai kehilangan berat, kehilangan kandungan gizi, kehilangan daya kecambah, sampai kehilangan finansial. (Rizal, 1993)


BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

3.1    ALAT DAN BAHAN
Peralatan dan bahan yang digunakan adalah :
1.      Timbangan 1 buah,
2.      Lilin 1 buah,
3.      Plastik ukuran 1 kg secukupnya,
4.      Abu sekam sebanyak 20 kg.

3.2    CARA KERJA
Adapun cara kerja praktikum penyusunan karung adalah sebagai berikut :
1.      Kantong pelastik diisi dengan sekam, ditutup kemasanya.
2.      Dilakukan penyusunan dengan kedua pola, dihitung kekokohan penyusunan karung.

BAB IV
PEMBAHASAN
Penyimpanan merupakan suatu usaha untuk melindungi bahan pangan dari beberapa faktor kerusakan. Tumpukan karung biasanya mempunyai 2 pola penyusunan, yaitu pola penyusunan kunci lima dan pola penyusunan bata mati. Dari kedua pola tersebut sama-sama teknik penyimpanan yang sangat menguntungkan, dikarenakan pola ini lebih memperhatikan sirkulasi udara dalam ruang yang menjadi ancaman bagi bahan pangan terutama dalam kelembaban bahan tersebut. Dengan adanya pola tersebut banyak penyimpanan karung menggunakan metode tersebut.
BAB V
PENUTUP


5.1  KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada percobaan ini adalah:
1.      Karung juga dapat menimbulkan kelembaban apabila karung terkena air yang dapat mengakibatkan kerusakan pada tepung dalam metode penyimpanan.
2.      Penggunaan kemasan karung dalam penyimpanan tepung dapat dengan mudah terserang hama, dan untuk menghindari serangan hama dan perkembangan hama diperlukan fumigasi secara teratur.





5.2  SARAN
Untuk saat ini saya belum ada saran sebagaimana mestinya, cuma dalam pengarahan materi harus lebih jelas lagi dan setiap kelompok harus ada 1 asisten untuk mengarahkan praktikannya. Trim’s.





BAHAN SELENGKAPNYA DAN DAFTAR PUSTAKA SILAHKAN DOWNLOAD DIBAWAH
Password: kuliahitukeren.blogspot.com