Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat Selama Periode 1990-2007

Pemerintah pusat melalui Bank Sentralnya, yaitu Bank Indonesia mengatur/mengambil kebijakan yang diperlukan dalam mengatur kestabilan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dalam hal ini dolar Amerika Serikat. Dalam pembahasan yang berikut ini yang di bahas adalah perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang semua dampaknya juga berpengaruh terhadap semu sektor di berbagai daerah di Indonesia. Indonesia sebagaimana negara lainnya di berbagai belahan dunia juga memiliki mata uang tersendiri, yaitu mata uang rupiah. Mata uang yang dimiliki oleh negara-negara di berbagai belahan dunia tersebut semuanya bertujuan guna memudahkan dalam bertransaksi berbagai macam kebutuhan akan barang-barang dan jasa-jasa. Dalam lingkup yang lebih luas lagi jika terjadi transaksi/perdagangan antar dua negara yang tentunya berlainan mata uangnya, maka dalam hal ini diperlukan adanya suatu angka perbandingan nilai antara  mata uang suatu negara dengan negara lainnya. Harga mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain disebut dengan kurs atau nilai tukar (exchange rate)
            Adanya kenyataan bahwa mata uang dolar AS suatu valuta asing (valas) yang lebih stabil dan diterima oleh berbagai negara menjadikannya sebagai salah satu valuta asing yang acap kali diperdagangkan. Tujuan utama perdagangan valuta asing ini adalah untuk mencari keuntungan sebagaimana halnya produk-produk dari sektor riil. Walaupun valuta asing ini telah menjadi tradeble goods, perubahan valuta asing masih sangat sensitif terhadap perubahan sektor riil, misalnya perubahan harga-harga barang terutama harga barang impor. Fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS selama kurun waktu tahun 1997-2002 (selama masa krisis) telah mengalami masa-masa yang paling berat setelah sebelumnya pernah terjadi gejolak moneter tahun 1966.
            Dari Tabel IV-2 memperlihatkan bahwa nilai tukar rupiah terus mengalami depresiasi dan hanya beberapa kali saja yang mengalami apresiasi. Pada tahun 1990 kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat adalah sebesar Rp.1.901 per dollar AS, kemudian melemah sebesar 4,79 persen atau berada dikisaran pada level 1.991 per dollar AS. Hal senada juga terjadi pada tahun 1992 yang melemah 15,86 persen atau turun 316 poin. Fluktuasi kurs rupiah terhadap dollar AS dapat diperhatikan melalui Tabel IV-2 berikut ini :

TABEL IV-2
PERKEMBANGAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA SERIKAT,
1990-2007

Tahun
Kurs Rata-Rata / Tahun
Pertumbuhan

( Rupiah )
%
Poin
1990
  1.901


1991
  1.992
   4,79
     91
1992
  2.308
1 5,86
   316
1993
  2.110
-  8,58
-  198
1994
  2.200
   4,27
     90
1995
  2.308
   4,91
   108
1996
  2.383
   3,25
     75
1997
  3.989
  67,39
1.606
1998
11.591
190,57
7.602
1999
  7.100
- 38,75
-4.491
2000
   9.595
  35,14
 2.495
2001
10.255
    6,88
    660
2002
   9.049
-  11,76
-1.206
2003
 10.260
   13,38
 1.211
2004
 10.263
     0,03
        3
2005
   9.830
-    4,22
-   433
2006
   9.200
-    6,41
-   630
2007
   9.400
    2,17
    200
         Sumber : Statistik Indonesia (diolah),2007

            Meningkatnya ekspor dan bergairah kembali perdagangan luar negeri Indonesia menyebabkan kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dollar menguat 8,58 persen atau 198 poin. Namun menguatnya rupiah terhadap dollar AS ini tidak dapat dipertahankan di tahun 1994,1995, dan1996 yaitu yang melemah 4,27 persen, 4,91 persen dan 3,25 persen. Melemahnya nilai tukar rupiah pada 3 tahun ini lebih disebabkan kurangnya persediaan uang dollar di Indonesia sedangkan permintaan akan dollar terus meningkat. Selain itu meningkatnya nilai impor juga berpotensi mempengaruhi kurs rupiah terhadap dollar pada 3 tahun tersebut.
            Nilai tukar rupiah terhadap dollar semakin melemah karena permintaan akan dollar AS semakin besar yang antara lain untuk memenuhi kewajiban hutang luar negeri yang segera akan jatuh tempo dan untuk tujuan-tujuan spekulatif oleh para spekulan. Rupiah melemah 37,39 persen pada tahun 1997. Tahun 1997, terlihat dengan jelas bahwa betapa lemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Di saat dollar begitu dibutuhkan baik untuk bayar utang luar negeri ataupun belanja luar negeri akan tetapi di saat itu pula terjadi excess demand terhadap dollar yang mengakibatkan harga dollar menaik tajam, selain itu juga dipengaruhi oleh ulah spekulan.
            Dalam Tabel IV-2 dapat dilihat bahwa memasuki tahun 1998 nilai tukar rupiah terhadap dollar mengalami depresiasi yang sangat besar yaitu melemah 190,57 persen atau mencapai level Rp.11.591 per dollar AS. Ini sebagai akibat dari melemahnya fundamentalis ekonomi Indonesia sehingga tidak sanggup menahan gejolak ekonomi yang juga terjadi di hampir seluruh negara Asia. Bank Indonesia telah mengambil berbagai langkah dalam mengatasi perkembangan nilai tukar rupiah yang kian tidak stabil tersebut, antara lain dengan melebarkan rentang dan intervensi di pasar valas ditingkatkan karena tekanan rupiah terus semakin kuat. Setelah Indonesia mendapat bantuan dari IMF (International Monetary Fund), rupiah menguat 4.491 poin dalam tahun 1999. Menguatnya rupiah terhadap dollar juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik dan sosial yang membaik dalam negeri, namun juga kepercayan publik terhadap perekonomian Indonesia sedikit banyaknya membantu memperbaiki nilai tukar rupiah terhadap dollar.
            Memasuki tahun 2000 rupiah kembali melemah 35,14 persen. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah meningkat terus sejak bulan April 2000 (kwartal kedua) hingga kwartal keempat tahun 2000, sebagai akibat dari perkembangan politik dan keamanan menjelang Sidang Tahunan MPR Agustus 2000. Melemahnya rupiah ini berlanjut hingga tahun 2001 yaitu sebesar 660 poin. Pada pertengahan tahun 2001 (Juli 2001) terjadinya pengalihan kepemimpinan nasional, yang berdampak pada tahun 2002, sehingga kepercayaan pasar cenderung membaik yang di picu oleh harapan bahwa berakhirnya krisis politik dapat menjadi tumpuan bagi bangkitnya perekonomian Indonesia dari krisis yang berkepanjangan dan rupiah mengalami apresiasi sebesar 1.206 poin atau berada pada level Rp.9.049 per 1 dollar AS.
            Memasuki tahun 2003, nilai tukar rupiah kembali melemah atau depresiasi sebesar 13,38 persen atau 1.211 poin. Hal ini disebabkan oleh memanasnya suhu politik akibat menjelang berakhirnya masa 5 tahunnya Presiden Megawati. Adanya ketegangan antara elit politik memicu buruknya harapan publik terhadap pasar baik publik asing maupun lokal. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar terus terjadi hingga tahun 2004, dimana melemah 0,03 persen atau 3 poin.
            Setelah terjadinya pergantian tampuk Pimpinan Presiden Megawati ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui proses pemilihan langsung dan demokratis, membuat dunia bisnis kembali bergairah dan harapan publik terhadap perekonomian Indonesia pun mulai membaik. Akibatnya nilai tukar rupiah menguat terhadap dollar Amerika Serikat sebesar 4,22 persen atau 433 poin atau berada pada level Rp.9.830,-.
            Mengacu pada perbaikan indikator moneter, termasuk tingkat inflasi yang rendah, nilai tukar dollar hingga akhir 2006 sedikit menguat sebesar 6,42 persen atau 630 poin dimana mampu bertahan pada level Rp 9.200,-. Penguatan rupiah pada tahun ini didukung oleh faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal adalah karena masih dipengaruhi oleh ekonomi AS yang melemah karena terjebak defisit ratusan miliar dolar AS. Begitu pula faktor eksternal dari penguatan rupiah dipengaruhi pula oleh kestabilan harga minyak dunia, meski masih cukup tinggi. Sementara itu, dari sisi internal penguatan rupiah dipengaruhi oleh laju inflasi yang berada di bawah 10 persen dan menyebabkan suku bunga turun ke level 9,75 persen. Alhasil, perbankan yang biasanya enggan menyalurkan kredit dan menaruh dana mereka ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tak lagi memiliki alternatif penyaluran dana yang lebih menguntungkan lagi.
            Menjelang akhir tahun 2007, gejolak rupiah kembali terjadi. Di tengah kebutuhan dollar AS yang tinggi, rupiah juga tidak bisa lepas dari masalah geopolitik serta sentimen global. Walaupun Pada awal tahun 2007 rupiah sedikit menguat namun pada akhir tahun rupiah melemah yang disebabkan karena besarnya permintaan korporasi terhadap dolar untuk keperluan pembayaran utang jatuh tempo. Suku bunga di beberapa negara yang mengalami kenaikan, tingginya harga minyak dunia, rontoknya bursa saham akibat krisis ekonomi di AS berlanjut pada krisis kredit perumahan AS menjadi pendorongnya. Sehingga pergerakan rupiah hingga akhir tahun mengalami pelemahan tipis di level 9.425 per dollar AS, tapi relatif stabil di posisi 9.400.

butuh daftar pustaka klik disni 

1 komentar: