Home » » PENGARUH KESEMPATAN KERJA DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERHADAP PRODUK NASIONAL BRUTO (GNP) DI INDONESIA

PENGARUH KESEMPATAN KERJA DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERHADAP PRODUK NASIONAL BRUTO (GNP) DI INDONESIA

ADVERTISEMENT
         Untuk melihat pengaruh kesempatan kerja dan tingkat pengangguran terhadap Produk Nasional Bruto (GNP) di Indonesia, maka akan digunakan regresi linear berganda. Adapun rinciannya dapat dilihat dari tabel berikut ini.
TABEL IV-4
HASIL ESTIMASI PENGARUH KESEMPATAN KERJA DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERHADAP PRODUK NASIONAL BRUTO (GNP)
DI INDONESIA, TAHUN 1989-2007
Variabel
Koefisien Estimasi
Standar error
T hitung
Sig
(P-Value)
Konstanta
- 75,731
27,17
- 2,787
0,013
Kesempatan Kerja
4,356
1,639
2,659
0,017
Pengangguran
1,043
0,233
4,469
0,000
R (koefisien korelasi)      = 1,00
D-W    = 1,651
F tabel = 13,652


R2 (koefisien determinasi)  = 0,954
F hitung  = 137,089



Adjusted R2                = 0,948
T tabel     = 3,695



   Sumber : Hasil Penelitian, 2008
            Dari tabel di atas maka diperoleh persamaan akhir estimasi yaitu :
                                    PNB = - 75,731 + 4,356KK + 1,043PG
Hasil estimasi tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.   Konstanta sebesar – 75,731. Menunjukkan bahwa produk nasional bruto (GNP) di Indonesia adalah sebesar – 75,731 persen, pada saat kesempatan kerja dan tingkat pengangguran dianggap konstan.
2.   Koefisien variabel kesempatan kerja adalah 4,356. Artinya adalah apabila terjadi peningkatan kesempatan kerja sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan produk nasional bruto (GNP) sebesar 4,356 persen.
3.   Koefisien variabel tingkat pengangguran adalah 1,043. Artinya adalah apabila terjadi penurunan tingkat pengangguran sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan produk nasional bruto (GNP) sebesar 1,043 persen.
4.   R (koefisien korelasi) adalah sebesar 1,00. Hal ini menunjukkan bahwa variabel produk nasional bruto (GNP) mempunyai hubungan sangat yang kuat (signifikan) terhadap kesempatan kerja dan tingkat pengangguran yaitu sebesar 100 persen.
5.   R2 (koefisien determinasi) adalah 0,954. Artinya adalah bahwa sebesar 95,4 persen perubahan-perubahan yang terjadi di dalam produk nasional bruto (GNP) dapat dijelaskan oleh perubahan-perubahan yang terjadi dalam variabel kesempatan kerja dan tingkat pengangguran. Sedangkan sisanya sebesar  4,6 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian ini.
6.   Perhitungan Adjusted R2 adalah 0,948. Artinya adalah bahwa derajat hubungan antara variabel bebas ( kesempatan kerja dan tingkat pengangguran) dengan variabel terikat (produk nasional bruto(GNP)) adalah 94,8 persen. Dengan kata lain kesempatan kerja dan tingkat pengangguran berhubungan signifikan dengan produk nasional bruto (GNP) di Indonesia. Sedangkan sisanya sebesar 5,2 persen berhubungan dengan faktor-faktor lain di luar penelitian ini.
7.   Pengujian hipotesis dengan uji –t, menunjukkan bahwa variabel kesempatan kerja memiliki pengaruh negatif terhadap produk nasional bruto (GNP) di Indonesia selama periode 1989-2007 yang diperoleh dengan keyakinan sebesar 95 persen, hal ini didasarkan pada perolehan t-hitung 2,659 < t-tabel 3,695. Sedangkan variabel tingkat pengangguran memiliki pengaruh positif terhadap produk nasional bruto (GNP) di Indonesia selama periode 1989-2007 yang diperoleh dengan keyakinan sebesar 95 persen, hal ini didasarkan pada perolehan t-hitung 4,469 > t-tabel 3,695.
8.   Untuk menguji pengaruh kesempatan kerja dan tingkat pengangguran secara keseluruhan terhadap produk nasional bruto (GNP) di Indonesia dapat dibuktikan dari hasil perhitungan dengan F-hitung dan F-tabel. Dari perhitungan diperoleh bahwa nilai F-hit = 137,089 > F-Tab = 13,652. Ini berarti bahwa kesempatan kerja dan tingkat pengangguran secara keseluruhan bersama-sama mempengaruhi produk nasional bruto (GNP) di Indonesia selama periode 1989-2007.
            Dengan diperoleh nilai D-W hitung adalah sebesar 1,651 maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak terjadi otokorelasi (korelasi serial) atau model regresi memenuhi persyaratan asumsi klasik tentang otokorelasi. Atau dapat dikatakan bahwa Durbin – Watson Test yang menunjukkan angka sebesar 1,651 merupakan angka signifikan secara statistik yang mengisyaratkan  bahwa tidak terjadi otokorelasi.
 DAFTAR PUSTAKANYA DISNI
Share this article :

Related Posts by Categories

0 comments:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Kumpul Bahan Kuliah | Jurnal Mahasiswa
Copyright © 2011. EDUCATION - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Jurnal Mahasiswa