Home » » Jenis-jenis Line Fishing

Jenis-jenis Line Fishing

ADVERTISEMENT
Berbeda dengan ikan yang menjadi tujuan penangkapan maka berbeda pula pancing yang digunakan. Dengan demikian struktur pancing juga akan berbeda sehingga akan terlihat banyak sekali variasi dari alat pancing ini. Sehubungan dengan jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan maka fishing ground dimana ikan itu berada akan berbeda pula kondisinya, dengan demikian maka cara yang dilakukan akan berbeda pula.
Secara garis besar line fishing banyak jenisnya, diantaranya adalah sebagai berikut;

1. Hand Lines
Hand lines adalah alat pancing yang sangat paling sederhana. Biasanya terdiri dari pancing, tali pancing dan pemberat serta dioperasikan oleh satu orang dan tali pancing langsung ketangan. Dari semua kelompok alat tangkap maka hand lines merupakan pancing yang sederhana. Alat ini hanya terdiri dari tali pancing, pancing dan umpan.
Kemudian operasionalnya sangat sederhana karena bisa dilakukan oleh seorang pemancing. Jumlah mata pancing bisa satu buah, juga lebih, dan dapat menggunakan umpan hidup maupun umpan palsu. Pemancingan dapat dilakukan di rumpon dan perairan lainnya. Ukuran pancing dan besarnya tali disesuaikan dengan besarnya ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Jika hand lines yang digunakan untuk menangkap ikan tuna tentu ukurannya lebih besar. Biasanya digunakan tali monofilament dengan diameter 1,5-2,5 mm dengan pancing nomor 5-1 dan ditambahkan pemberat timah.
Jenis pancing ini ada yang dioperasikan dari suatu tebing di pantai, dari bebatuan yang ada di pantai, dari perahu maupun kapal. Beberapa jenis pancing dari kelompok ini yang ada di tanah air antara lain : pancing usep, pancing jegog, pancing mungsing, pancing gambur serta sejumlah penamaan lainnya. Jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan antara lain bambangan (kakap merah, snapper) ekor kuning (Caesio sp.), Caranx sp. Dan lain sebagainya

2. Huhate ( Pole and Line )
Pole and line yaitu pancing yang digunakan untuk menangkap ikan-ikan cankalang, tuna, tongkol, pancing ini terdiri dari joran, tali pancing dan umpan. Dioperasikan secara bersama diatas kapal. Pole and line biasa disebut dengan “huhate” sebagai penangkap ikan alat ini sangat sederhana desainnya, hanya terdiri dari joran, tali, dan mata pancing. Tetapi sesungguhnya cukup kompleks karena dalam pengoperasiannya memerlukan umpan hidup untuk merangsang kebiasaan menyambar mangsa pada ikan.
Sebelum pemancingan, dilakukan penyomprotan air untuk mempengaruhi visibility ikan terhapap kapal atau para pemancing. Adanya faktor umpan hidup inilah yang membuat cara penangkapan ini menjadi agak rumit. Hal ini disebabkan karena umpan hidup harus sesuai dalam ukuran dan jenis tertentu, disimpan, dipindahkan, dan dibawa dalam keadaan hidup. Ini berarti diperlukan sistem penangkapan umpan hidup dan disain kapal yang sesuai untuk penyimpanan umpan supaya umpan hidup dapat tahan sampai waktu penggunaannya.
Secara umum alat tangkap pole and line terdiri atas joran (bambu atau lainnya) untuk tangkai pancing, polyethylene untuk tali pancing dan mata pancing yang tidak berkait terbalik.

Diskripsi alat tangkap pole and line ini adalah sebagi berikut:

Joran (galah). Bagian ini terbuat dari bambu yang cukup tua dan mempunyai tingkat elastisitas yang baik. Yang umum digunakan adalah bambu yang berwarna kuning. Panjang joran berkisar 2 - 2,5 m dengan diameter pada bagian pangkal 3 – 4 cm dan bagian unjuk sekitar 1 – 1,5 cm. Sebagaimana telah banyak digunakan joran dari bahan sintesis seperti plastik atau fibres.

Tali utama (main line). Terbuat dari bahan sintesis polyethylene dengan panjang sekitar 1,5 - 2 m yang disesuaikan dengan panjang joran yang digunakan, cara pemancingan, tinggi haluan kapal dan jarak penyemprotan air. Diameter tali 0,5 cm dan nomor tali adalah No 7.
 Tali sekunder. Terbuat dari bahan monopilament berupa tasi berwarna putih sebagai pengganti kawat baja (wire leader) dengan panjang berkisar 20 cm. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terputusnya tali utama dengan mata pancing sebagai akibat gigitan ikan cangkalang.

Mata pancing (hook) yang tidak berkait balik. Nomor mata pancing yang digunakan adalah 2,5 – 2,8. Pada bagian atas mata pancing terdapat timah berbentuk slinder dengan panjang sekitar 2 cm dan berdiameter 8 mm dan dilapisi nikel sehingga berwarna mengkilap dan menarik perhatian ikan cangkalang. Selain itu, pada sisi luar silender terdapat cincin sebagai tempat mengikat tali sekunder. Di bagian mata pancing dilapisi dengan guntingan tali rapia berwarna merah yang membungkus rumbia-rumbia tali merah yang juga berwarna sebagai umpan tiruan. Pemilihan warna merah ini disesuaikan dengan warna ikan umpan yang juga berwarna merah sehingga menyerupai ikan umpan.

Dalam pelaksanaan operasi dengan alat pole and line ini disamping digunakan umpan tiruan berupa sobekan-sobekan kain, guntingan tali raffia, ataupun bulu ayam juga digunakan umpan hidup. Umpan hidup ini dipakai untuk lebih menarik perhatian ikan cakalang agar lebih mendekat pada areal untuk melakukan pemancingan. Sedangkan dalam melakukan operasi pemancingan digunakan pancing tanpa umpan. Hal ini bertujuan untuk efisiensi dan efektifitas alat tangkap, karena ikan cakalang termasuk pemangsa yang rakus. Hal ini sesuai dengan pendapat ayodhya (1981) bahwa jika ikan makin banyak dan makin bernafsu memakan umpan, maka dipakai pancing tanpa umpan dan mata pancing ini tidak beringsang (tidak berkait).

Teknik operasi penangkapan ikan menggunakan pole and line yaitu;


Setelah semua persiapan telah dilakukan, termasuk penyediaan umpan hidup, maka dilakukan pencarian gerombolan ikan oleh seorang pengintai yang tempatnya biasanya dianjungan kapal, dan menggunakan teropong. Pengoperasian bisa juga dilakukan didekat rumpon yang telah dipasang terlebih dahulu. Setelah menemukan gerombolan ikan harus diketahui arah renang ikan tersebut baru kemudian mendekati gerombolan ikan tersebut. Sementara pemancing sudah harus bersiap masing-masing pada sudut kiri kanan dan haluan kapal. Cara mendekati ikan harus dari sisi kiri atau kanan dan bukan dari arah belakang.
Pelemparan umpan dilakukan oleh bouy-bouy setelah diperkirakan ikan telah berada dalam jarak jangkauan pelemparan, kemudian ikan dituntun kearah haluan kapal. Pelemparan umpan ini diusahakan secepat mungkin sehingga gerakan ikan dapat mengikuti gerakan umpan menuju haluan kapal. Pada saat pelemparan umpan tersebut, mesin penyomprot sudah difungsikan agar ikan tetap berada didekat kapal. Pada saat gerombolan ikan berada dekat haluan kapal, maka mesin kapal dimatikan. Sementara jumlah umpan yang dilemparkan kelaut dikurangi, mengingat terbatasnya umpan hidup. Selanjutnya, pemancingan dilakukan dan diupayakan secepat mungkin mengingat kadang-kadang gerombolan ikan tiba-tiba menghilang terutama jika ada ikan yang berdarah atau ada ikan yang lepas dari mata pancing dan jumlah umpan yang sangat terbatas. Pemancingan biasanya berlangsung 15 – 30 menit.
Waktu pemancingan tidak perlu dilakukan pelepasan ikan dari mata pancing disebabkan pada saat joran disentuhkan ikan akan jatuh keatas kapal dan terlepas sendiri dari mata pancing yang tidak berkait. Berdasarkan pengalaman atau keahlian memancing nelayan, pemancing kadang dikelompokkan kedalam pemancing kelas I, II, dan III. Pemancing kelas I (lebih berpengalaman) ditempatkan dihaluan kapal, pemancing kelas II ditempatkan disamping kapal, dekat kehaluan, sedangkan pemancing kelas III ke samping kapal agak jauh dari haluan. Untuk memudahkan pemancingan, maka pada kapal Pole and Line dikenal adanya ”flying deck” atau tempat pemancingan.
Hal lain yang perlu diperhatikan pada saat pemancingan adalah menghindari ikan yang telah terpancing, jatuh kembali kelaut. Hal ini akan mengakibatkan gerombolan ikan yang ada akan melarikan diri ke kedalaman yang lebih dalam dan meninggalkan kapal, sehingga mencari lagi gerombolan ikan yang baru tentu akan mengambil waktu. Disamping itu, banyaknya ikan-ikan kecil diperairan sebagai natural bait akan menyebabkan kurangnya hasil tangkapan. Jenis-jenis ikan tuna, cakalang, dan tongkol merupakan hasil tangkapan utama dari alat tangkap Pole and Line.


3. Rawai (long line)
Rawai (long line) terdiri dari rangkaian tali utama, tali pelampung dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan lebih kecil diameternya, dan diujung tali cabang ini diikatkan pancing yang berumpan.
Ada beberapa jenis alat tangkap long line. Ada yang dipasang didasar perairan secara tetap pada jangka waktu tertentu dikenal dengan nama rawai tetap atau bottom long line atau set long line yang biasa digunakan untuk menangkap ikan-ikan demersal. Ada juga yang hanyut yang biasa disebut dengan Dript long line, biasanya untuk menangkap ikan-ikan pelagis. Yang paling terkenal adalah tuna long line atau disebut juga dengan rawai tuna.
Sehubungan dengan jenis alat tangkap ini, ternyata terdapat sejumlah variasi baik dalam hal ukuran, struktur maupun besar-kecil serta jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapannya.

Berdasarkan besar-kecilnya alat tangkap long-line ini, Anonimous (1971) Membedakannya menjadi :

a. Onawa (long line besar). Long line besar ini ditujukan untuk menangkap jenis-jenis tuna berukuran besar dengan kisaran bobot 30-100 kg seperti jenis bluefin tuna, tuna mata besar (Bigeye tuna), Madidihang (Yellowfin Tuna) serta lainnya ;
b. Tombonawa (Albacore long line) yang sesuai dengan namanya, lebih banyak dikhususkan untuk menangkap jenis ikan albakora. Jenis ikan albakora yang menjadi sasaran penangkapan umunya dengan kisaran bobot tubuh 10-20 Kg.
c. Meijinawa (Meiji Long line). Sasaran penangkapan adalah jenis-jenis tuna berukuran bobot tubuh lebih kecil daripada kedua jenis long line terdahulu, yaitu yang berbobot antara 3-10 Kg. jenis long line ini pada dasarnya hamper tidak berbeda dengan jenis tombonawa (Albacore long line), bahkan dikarenakan banyak memperoleh perbaikan maka umum juga dikenal sebagai “improved long line”. Selain berbeda dalam hal ikan yang menjadi tujuan utamanya, juga berbeda dalam hal jumlah branch line atau tali cabang yang digunakan.
Pengklasifikasian long line lainnya ada yang mendasarkannya pada faktor kedalaman perairan tempat mengoperasikannya.

Sehubungan dengan hal ini, maka dikenal :
a. jenis long line yang dioperasikan pada lapisan di bawah permukaan (sub-surface layer) ataupun pada perairan dangkal. Jenis long line ini diduga biasa dikenal sebagai “Albacore type long line” ;
b. jenis long line yang dioperasikan pad perairan dalam. Jenis ini dikenal sebagai “Black tuna type long line”. ( Shapiro, 1950 dalam tambunan 1964).
Pembagian jenis long line lainnya, adapula yang mendasarkan pada cara bagaimana long line tersebut dioperasikan, apakah perentangannya ditetapkan dengan adanya pelampung dan jangkar ataukah jenis long line tersebut dibiarkan terhanyut di ayun dan dihanyutkan oleh adanya arus. Berdasarkan hal ini maka pembagiannya adalah :
a. Jenis long line yang ditetapkan (Set long line) ;
b. Jenis long line hanyut (Drift long line) (Ayodhyoa, 1972 ; Sainsbury, 1968 ; von Brandt, 1972 ; Nedelec and Prado, 1990).
Walau dikatakan bahwa jenis long line sangatlah berfariasi baik dalam hal ukurannya, cara pengoperasiannya, daerah penangkapannya, jenis ikan yang menjadi tujuan maupun tradisi lokal, sainbury (1968) membedakan long line utamanya pada lapisan kedalaman tempat alat tersebut dioperasikan. Beliau menggklasifikasikannya menjadi :
a. sub surface long line. Long line ini leluasa dioperasikan pada lapisan air dibawah permukaan menurut kedalaman yang dihendaki berdasarkan pengetahuan kedalaman renang ikan yang menjadi tujuan penangkapan ;
b. Bottom long line. Long line ini direntang dekat maupun didasar perairan.
kecenderungan daerah asal long line mendasari penggolongan long line yang di tempuh oleh von Brandt (1972) :
a. Long line Eropa yang ditujukan untuk belut dan sidat Eropa ;
b. Long line dengan rangkaian lampu pada jarak tertentu ;
c. Jenis long line Portugis, long line ini diatur sedemikian rupa sehingga posisi long line ini terangkat dari dasar perairan.

Walaupun dalam kenyataannya bahwa hasil tangkapannya bukan hanya ikan tuna tetapi juga jenis-jenis ikan lain seperti layaran, ikan hiu, dan lain-lain.Secara prinsip rawai tuna sama dengan rawai lainnya, namun mengingat berbagai factor biologi ikan sasaran, teknis pemakaian dan pengoperasian alat, komponen alat bantu kapal yang tersedia, maka dilakukan berbagai penyesuaian.
Bahan tali pancing dapat terbuat dari bahan monofilament (biasanya PA) atau multifilament (biasanya PES seperti terylene, PVA seperti kuralon PA seperti nylon). Perbedaan pemakian bahan ini akan mempengaruhi jenis line hauler yang diperlukan. Beberapa perbedaan dari kedua jenis bahan tersebut dipandang dari segi teknis adalah sebagai berikut;
 Bahan multifilament lebih berat dan mahal dibanding monofilament, lebih mudah dirakit, dan lebih sesuai untuk kapal-kapal kecil.
 Bahan multifilament lebih tahan dan mudah ditangani. Karena itu, dalam jangka panjang rawai multifilament harganya relative lebih rendah.
 Karena lebih kecil, halus, dan transparan maka pemakaian monofilament dinilai akan memberi hasil tangkapan lebih baik dari multifilament.

Dilihat dari segi kedalaman operasi (fishing depth) rawai tuna dibagi dua yaitu yang bersifat dangkal (subsurfase), dan yang bersifat dalam (deep) yang pancingan berada pada kedalaman 100 – 300 meter. Perbedaan kedua jenis ini disebabkan pada tipe dangkal satu basket rawai diberi sekitar 5 pancingan sedangkan pada tipe dalam diberi 11 – 13 pancing sehingga lengkungan tali utama menjadi lebih dalam.

Dalam beberapa sifat dari kedua tipe ini adalah;
 Rawai tipe dalam memerlukan line hauler yang lebih kuat dibanding tipe dekat permukaan.
 Rawai tipe dalam menangkap jenis big eye lebih banyak (sehingga nilai produksinya lebih baik) dibanding tipe dekat permukaan. Tuna yang tertangkap dengan rawai dangkal didominasi oleh yellowfin yang harganya lebih murah dibanding bigeye.

Pelepasan pancing (setting) dilakukan menurut garis yang menyerong atau tegak lurus pada arus. Waktu melepas pancing biasanya dini hari tergantung jumlah basket yang akan dipasang karena diharapkan setting selesai pada pagi hari jam 7.00 saat ikan sedang mencari mangsa. Akan tetapi, pengoperasian siang haripun bias pula dilakukan. Namun akibatnya, penarikan pancing (hauling) jatuh pada waktu sore harinya.
Umpan yang umum dipakai adalah jenis ikan yang mempunyai sisik mengkilat, tidak cepat busuk, dan rangka tulangnya kuat sehingga tidak mudah lepas dari pancing bila tidak disambar ikan.
Beberapa jenis diantaranya adalah bandeng, saury, tawes, kembung, layang, dan cumi-cumi. Panjang umpan berkisar diantara 15 – 20 cm dengan berat antara 80 -150 gram. Cumi-cumi kecil masih dapat dipakai asalkan digabung (dijahit) beberapa ekor sehingga menjadi cukup besar. Umpan ini harus berasal dari ikan yang benar-benar segar dan dilakukan dengan baik agar tahan dalam waktu lama.
Tergantung dari kapal dan peralatan penarik tali pancing dalam setiap operasi dapat dilepas antara 500 – 2.000 mata pancing dan berarti keseluruhan main line berkisar antara 25 – 100 km.
Dalam uji coba rawai skala kecil untuk perahu 1 – 5 GT bermesin tempel ataupun inboard dapat dilepas 50 – 150 pancing dalam waktu 1- 2 jam sedangkan penarikannya memerlukan waktu 2 – 3 jam. Bekerja pada kapal lebih besar akan lebih leluasa, sehingga ratio waktu dan jumlah pancing yang dapat dioperasikan cenderung lebih kecil.

Bagian-bagian dari Tuna Long Line

Separti halnya pada alat penangkapan ikan lainnya, satu unit alat tangkap tuna long line terdiri dari kapal yang dirancang khusus, alat tangkap dan crew. Kapal-kapal tuna long line modern bagian belakang dari kapal ini telah dirancang dengan baik untuk memudahkan operasi dan pengaturan alat tangkap.

Besarnya kapal yang digunakan, akan menentukan jumlah basket yang akan dioperasikan yang berarti akan menentukan panjang alat tangkap long line yang akan digunakan (Tabel 10.1).
Tabel 3.2.1 Gt, jumlah basket, dan panjang line yang digunakan pada alat tangkap tuna long line (Ayodhyoa, 1981)
Jumlah Basket GT (ton) Panjang Total (mil) Panjang Total (Km)
20 100 14 25,9
50 150 21 38,9
70 200 29 53,7
100 250 36 66,7
150 350 50 92,6
200 370 53 98,2
300 430 62 114,8
Table tersebut memperlihatkan bahwa semakin besar ukuran kapal maka semakin panjang tuna long line yang bisa dioperasikan. Jumlah crew dalam satu unit penangkapan tuna long line bergantung pada besarnya unit usaha, semakin besar unit usahanya maka jumlah crewnya semakin banyak. Sebagai contoh dapat dilihat pada table 10.2.

Tabel 3.2.2 Jumlah Nelayan Menurut GT Kapal (Ayodyoa, 1981).
t (ton) Jumlah Crew (orang)
30 – 100 10 – 25
100 – 200 20 – 30
200 – 400 30 – 35
400 – 600 30 – 45
600 45

Alat tangkap tuna long line sendiri pada umunya terdiri dari, pelampung, bendera, tali pelampung, main line (tali utama), branch line (tali cabang), pancing, wire leader, dan lain-lain. Antara pelampung dengan pelampung dihubumgkan dengan tali pelampung dan tali utama dimana sepanjang tali utama terpasang beberapa tali cabang. Satu rangkaian alat inilah yang disebut dengan satu basket long line. Jumlah mata pancing setiap basket bervariasi. Sebagai contoh bahwa pada perusahaan perikanan samudera besar di Bali, setiap basket menggunakan 12 branch line. Untuk lebih detail pengetahuan tentang alat ini kita lihat bagian demi bagian.

1) Pelampung (float)
Pelampung yang digunakan pada alat tangkap tuna long line ini terdiri dari beberapa jenis yaitu pelampung bola, pelampung bendera, pelampung radio, dan pelampung lampu. Warna pelampung harus berbeda atau kontras dengan warna air laut. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan mengenalnya dari jarak jauh setelah setting.

a. Pelampung bola
Pelampung bola biasanya dipasang pada ujung basket dari alat tangkap tersebut. Pelampung bola ini terbuat dari bahan sintetic resin dengan diameter 35 cm dan ada yang lebih besar. Untuk alat tangkap long line dengan jumlah basket 70 maka jumlah pelampung bola yang digunakan adalah 68 buah, pada ujungnya terdapat pipa setinggi 25 cm dan stiker scotlight yang sangat berguna apabila alat tangkap tersebut putus maka mudah menemukannya. Untuk melindungi pelampung-pelampung tersebut dari benturan yang dapat menyebabkan pecahnya atau retaknya pelampung tersebut, maka pelampung tersebut dibalut dengan anyaman tali polyethilene dengan diameter 5 milimeter.

b. Pelampung Bendera
Pelampung bendera merupakan pelampung yang pertama kali diturunkan pada waktu setting dilakukan. Biasanya diberikan tiang (dari bambu atau bahan lain) yang panjangnya bervariasi sekitar 7 m dan diberi pelampung. Supaya tiang ini berdiri tegak maka diberi pemberat.

c. Pelampung Lampu
Pelampung lampu ini biasanya menggunakan balon 5 watt yang sumber listriknya berasal dari baterai yang terletak pada bagian ujung atas pipa atau bawah ruang yang kedap air. Pelampung ini dipasang pada setiap 15 basket yang diperkirakan hauling pada malam hari. Fungsinya adalah untuk penerangan pada malam hari dan memudahkan pencarian basket bila putus.
d. Radio Bouy
Sebuah radio bouy dilengkapi dengan transmitter dengan transmitter yang mempunyai frekuensi tertentu. Daerah transmisinya bisa mencapai 30 mil. Jika dalam pengoperasiannya long line menggunakan radio bouy, maka kapal harus dilengkapi dengan Radio Direction Finder ( RDF ). Peralatan ini berfungsi untuk menunjukkan arah lokasi radio bouy dengan tepat pada waktu basket putus.


2) Tali Pelampung
Tali pelampung berfungsi untuk mengatur kedalaman dari alat tangkap sesuai dengan yang dikehendaki. Tali pelampung ini biasanya terbuat dari bahan kuralon.

3) Tali Utama ( Main Line )
Tali utama atau main line adalah bagian dari potongan-potongan tali yang disambung-sambung antara satu dengan yang lain sehingga membentuk rangkaian tali yang sangat panjang. Tali utama ini harus cukup kuat karena menanggung beban dari tali cabang dan tarikan dari ikan yang terkait pada mata pancing. Pada kedua ujung dari tiap main line dibuat simpul mata. Main line biasanya terbuat dari bahan kuralon yang diameternya 0,25 inci atau lebih.

4) Tali Cabang ( Branch Line )
Bahan dari tali cabang biasanya sama dengan tali utama, perbedaannya hanya pada ukurannya saja, dimana ukuran tali cabang lebih kecil dari tali utama. Satu set tali cabang ini terdiri dari tali pangkal, tali cabang utama, wire leader yang berfungsi agar dapat menahan gesekan pada saat ikan terkait pada pancing, dan pancing yang terbuat dari bahan baja. Umpan merupakan bagian yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penangkapan ikan dengan tuna long line. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi umpan pada alat tangkap ini antara lain adalah jenis ikan yang mempunyai sisik mengkilat dengan warna yang menarik sehingga dengan mudah dilihat pada jarak yang jauh, kemudian tidak cepat membusuk, rangka tulangnya kuat sehingga tidak mudah lepas dari pancing bila tidak di sambar ikan, mempunyai bau yang cukup tajam dan merangsang serta disukai oleh ikan yang di pancing, tersedia dalam jumlah yang besar, dan murah harganya. Ikan bandeng, ikan kembung, ikan layang, dan cumi-cumi merupakan jenis umpan yang banyak digunakan.



5) Alat-Alat Bantu
Alat Bantu yang dimaksud adalah alat-alat yang dipergunakan untuk mempermudah dan memperlancar kegiatan operasi penangkapan di kapal, antara lain: radar, RDF, Line hauler, Marlin spike, catut potong, ganco, sikat baja, jarum pembunuh, pisau, dll.

Teknik Operasi Penangkapan ikan menggunakan rawai ( long line ), yaitu;
Setelah semua persiapan telah selesai dan telah tiba pada suatu fishing ground yang telah ditentukan. Setting diawali dengan waktu yang dipergunakan untuk melepas pancing 0,6 menit/ pancing. Pelepasan pancing dilakukan menurut garis yang menyerong atau tegak lurus pada arus. Waktu melepas pancing biasanya tengah malam, sehingga pancing telah terpasang waktu pagi pada saat ikan sedang giat mencari mangsa. Akan tetapi, pengoperasian pada siang hari dapat pula dilakukan.
Penarikan alat tangkap dilakukan jika telah berada pada dalam air selama 3-6 jam. Penarikan dilakukan dengan menggunakan line hauler yang diatur kecepatannya. Masing-masing anak buah kapal ( ABK ) telah mengetahui tugasnya sehingga alat tangkap dapat di atur dengan rapi. Lamanya penarikan alat tangkap sangat ditentukan oleh banyaknya hasil tangkapan dan faktor cuaca. Penarikan biasanya memakan waktu 3 menit/ pancing.

4. Pancing Tonda ( Troling Line )
Pancing Tonda adalah pancing yang diberi tali panjang dan di tarik oleh perahu atau kapal. Pancing diberi umpan ikan segar atau buatan yang karena pengaruh tarikan bergerak di dalam air sehingga merangsang ikan buas menyambarnya.
Namun, untuk penangkapan tuna besar alat ini belum umum dipakai karena swimming layer ikan ini jauh lebih dalam dari operation depth dari tonda yang ada. Dengan menggunakan sistem pemberat, papan selam, atau tabung selam dan dikombinasikan dengan perhitungan kecepatan kapal, maka operation depth dari pancing dapat diatur mendekati swimming layer tuna. Dengan demikian alat ini memungkinkan menangkap tuna.
Pengoperasian tonda memerlukan perahu atau kapal yang selalu bergerak di depan gerombolan ikan sasaran. Biasanya pancing di tarik dengan kecepatan 2-6 knott tergantung jenisnya.
Ukuran perahu atau kapal yang dipakai berkisar antara 0,5-10 GT. Utuk sub surface trolling ukuran kapal dan kekuatannya harus lebih besar dan dapat dilengkapi dengan berbagai peralatan bantu terutama untuk menggulung tali.
Alat tangkap ini ditujukan untuk menangkap jenis-jenis ikan palagis yang biasa hidup dekat permukaan, mempunyai nilai ekonomis tinggi dan mempunyai kualitas daging setengah mutu tinggi. Jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan antara lain jenis ikan bonito ( Scomberomerous sp. ), tuna, salmon, cakalang, tengiri dan lainnya. Melalui bagian belakang maupun samping kapal yang bergerak tidak terlalu cepat, dilakukan penarikan sejumlah tali pancing dengan mata-mata pancing yang umumnya tersembunyi dalam umpan buatan. Ikan-ikan akan memburu dan menangkap umpan-umpan buatan tersebut, hal ini tentu saja memungkinkan mereka tertangkap.
Sainsbury ( 1986 ) menegaskan bahwa kunci keberhasilan penangkapan umumnya banyak ditentukan oleh :
- Kemampuan pendugaan tempat-tempat pengkonsentrasian daerah yang banyak didiami jenis-jenis ikan menjadi tujuan penangkapan ;
- Kesiapan ikan-ikan untuk memekan umpan ;
- Kemampuan untuk mengetahui keadaan suhu dan gradiasi suhu maupun termoklin yang ada di daerah penangkapan tersebut, karena ikan-ikan pelagis yang hidup dekat permukaan ini umumnya sangat sensitif terhadap hal ini ;
- Bunyi yang dihasilkan baik oleh mesin maupun propeler kapal dapat mengganggu dan mengusir ikan-ikan yang membuntuti kapal yang sedang dioperasikan. Sehubung dengan hal ini, perahu atau kapal yang digerakan oleh tenaga layar tampaknya justru akan lebih baik.
Share this article :

Related Posts by Categories

0 comments:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Kumpul Bahan Kuliah | Jurnal Mahasiswa
Copyright © 2011. EDUCATION - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Jurnal Mahasiswa