Latest Post

AUDIT MEDIS

AUDIT MEDIS

Kementerian Kesehatan lewat Peraturan Menteri Kesehatan no.755/MENKES/PER/IV/2011 tentang penyelenggaraan komite medik rumah sakit mendefinisikan audit medis sebagai upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan medis yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi medis. Tujuan audit medis terkait dengan upaya peningkatan mutu dan standarisasi, adalah tercapainya pelayanan prima di rumah sakit. Kegiatan audit medis dilakukan untuk mengevaluasi mutu pelayanan medis, untuk mengetahui penerapan standar pelayanan medis, untuk melakukan perbaikan-perbaikan upelayanan medis sesuai dengan kebutuhan pasien dan standar pelayanan medis.

Pelaksanaan Audit Medis
Dalam peraturan perundang-undangan tentang perumahsakitan, pelaksanaan audit medis dilaksanakan sebagai implementasi fungsi manajemen klinis dalam rangka penerapan tata kelola klinis yang baik di rumah sakit. Audit medis tidak digunakan untuk mencari ada atau tidaknya kesalahan seorang staf medis dalam satu kasus. Dalam hal terdapat laporan kejadian dengan dugaan kelalaian seorang staf medis, mekanisme yang digunakan adalah mekanisme disiplin profesi, bukannya mekanisme audit medis. Audit medis dilakukan dengan mengedepankan respek terhadap semua staf medis (no blaming culture) dengan cara tidak menyebutkan nama (no naming), tidak mempersalahkan (no blaming), dan tidak mempermalukan (no shaming). Audit medis yang dilakukan oleh rumah sakit adalah kegiatan evaluasi profesi secara sistemik yang melibatkan mitra bestari (peer group) yang terdiri dari kegiatan peer-review, surveillance dan assessment terhadap pelayanan medis di rumah sakit. Dalam pengertian audit medis tersebut di atas, rumah sakit, komite medik atau masing-masing kelompok staf medis dapat menyelenggarakan menyelenggarakan evaluasi kinerja profesi yang terfokus (focused professional practice evaluation).

Secara umum, pelaksanaan audit medis harus dapat memenuhi 4 (empat) peran penting, yaitu :
a.       sebagai sarana untuk melakukan penilaian terhadap kompetensi masing-masing staf medis pemberi pelayanan di rumah sakit;
b.      sebagai dasar untuk pemberian kewenangan klinis (clinical privilege) sesuai kompetensi yang dimiliki;
c.       sebagai dasar bagi komite medik dalam merekomendasikan pencabutan atau penangguhan kewenangan klinis (clinical privilege); dan
d.      sebagai dasar bagi komite medik dalam merekomendasikan perubahan/ modifikasi rincian kewenangan klinis seorang staf medis.
Audit medis dapat pula diselenggarakan dengan melakukan evaluasi berkesinambungan (on-going professional practice evaluation), baik secara perorangan maupun kelompok. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dapat merupakan kegiatan yang berbentuk siklus sebagai upaya perbaikan yang terus menerus sebagaimana tercantum di bawah ini:

Berdasarkan siklus di atas maka langkah-langkah pelaksanaan audit medis
dilaksanakan sebagai berikut:
a.       Pemilihan topik yang akan dilakukan audit.
Tahap pertama dari audit medis adalah pemilihan topik yang akan dilakukan audit. Pemilihan topik tersebut bisa berupa penanggulangan penyakit tertentu di rumah sakit (misalnya : thypus abdominalis),  penggunaan obat tertentu (misalnya: penggunaan antibiotik), tentang prosedur atau tindakan tertentu, tentang infeksi nosokomial di rumah sakit, tentang kematian karena penyakit tertentu, dan lain-lain. Pemilihan topik ini sangat penting, dalam memilih topik agar memperhatikan jumlah kasus atau epidemiologi penyakit yang ada di rumah sakit dan adanya keinginan untuk melakukan perbaikan. Sebagai contoh di rumah sakit kasus typhus abdominalis cukup banyak dengan angka kematian cukup tinggi. Hal ini tentunya menjadi masalah  dan ingin dilakukan perbaikan. Contoh lainnya : angka seksio sesaria yang cukup tinggi di rumah sakit yang melebihi dari angka nasional. Untuk mengetahui penyebabnya sehingga dapat dilakukan perbaikan maka perlu dilakukan audit terhadap seksio sesaria tersebut. Pemilihan dan penetapan topik atau masalah yang ingin dilakukan audit dipilih berdasarkan kesepakatan komite medik dan kelompok staf medis.
b.      Penetapan standar dan kriteria.
Setelah topik dipilih maka perlu ditentukan kriteria atau standar profesi yang jelas, obyektif dan rinci terkait dengan topik tersebut. Misalnya topik yang dipilih typhus abdominalis maka perlu ditetapkan prosedur pemeriksaan, diagnosis dan pengobatan typhus abdominalis. Penetapan standar dan prosedur ini oleh mitra bestari (peer group) dan/atau dengan ikatan profesi setempat. Ada dua level standar dan kriteria yaitu must do yang merupakan absolut minimum kriteria dan should do yang merupakan tambahan kriteria yang merupakan hasil penelitian yang berbasis bukti.
c.       Penetapan jumlah kasus/sampel yang akan diaudit.
Dalam mengambil sampel bisa dengan menggunakan metode pengambilan sampel tetapi bisa juga dengan cara sederhana yaitu menetapkan kasus typhus abdominalis yang akan diaudit dalam kurun waktu tertentu, misalnya dari bulan Januari sampai Maret. Misalnya selama 3 bulan tersebut ada 200 kasus maka 200 kasus tersebut yang akan dilakukan audit.
d.      Membandingkan standar/kriteria dengan pelaksanaan pelayanan.
Subkomite mutu profesi atau tim pelaksana audit medis mempelajari rekam medis untuk mengetahui apakah kriteria atau standar dan prosedur yang telah ditetapkan tadi telah dilaksanakan atau telah dicapai dalam masalah atau kasus-kasus yang dipelajari. Data tentang kasus-kasus yang tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dipisahkan dan dikumpulkan untuk di analisis. Misalnya dari 200 kasus ada 20 kasus yang tidak memenuhi kriteria atau standar maka 20 kasus tersebut agar dipisahkan dan dikumpulkan.
e.       Melakukan analisis kasus yang tidak sesuai standar dan kriteria.
Subkomite mutu profesi atau tim pelaksana audit medis menyerahkan ke 20 kasus tersebut pada mitra bestari (peer group) untuk dinilai lebih lanjut. Kasus-kasus tersebut di analisis dan didiskusikan apa kemungkinan penyebabnya dan mengapa terjadi ketidaksesuaian dengan standar. Hasilnya: bisa jadi terdapat (misalnya) 15 kasus yang penyimpangannya terhadap standar adalah “acceptable” karena penyulit atau komplikasi yang tak diduga sebelumnya (unforeseen). Kelompok ini disebut deviasi (yang acceptable). Sisanya yang 5 kasus adalah deviasi yang unacceptable, dan hal ini dikatakan sebagai “defisiensi”. Untuk melakukan analisis kasus tersebut apabila diperlukan dapat mengundang konsultan tamu atau pakar dari luar, yang biasanya dari rumah sakit pendidikan.
f.       Menerapkan perbaikan.
Mitra bestari (peer group) melakukan tindakan korektif terhadap kelima kasus yang defisiensi tersebut secara kolegial, dan menghindari “blaming culture”. Hal ini dilakukan dengan membuat rekomendasi upaya perbaikannya, cara-cara pencegahan dan penanggulangan, mengadakan program pendidikan dan latihan, penyusunan dan perbaikan prosedur yang ada dan lain sebagainya.
g.      Rencana reaudit.
Mempelajari lagi topik yang sama di waktu kemudian, misalnya setelah 6 (enam) bulan kemudian. Tujuan reaudit dilaksanakan adalah untuk mengetahui apakah sudah ada upaya perbaikan. Hal ini bukan berarti topik audit adalah sama terus menerus, audit yang dilakukan 6 (enam) bulan kemudian ini lebih untuk melihat upaya perbaikan. Namun sambil melihat upaya perbaikan ini, Subkomite mutu profesi atau tim pelaksana audit dan mitra bestari (peer group) dapat memilih topic yang lain.





DAFTAR PUSTAKA
1.      Peraturan Menteri Kesehatan no.755/MENKES/PER/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit.
2.      Keputusan Menteri Kesehatan no.496/MENKES/SK/IV/2005 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit (Telah dicabut dengan adanya Peraturan Menteri Kesehatan no.755/MENKES/PER/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit).


PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA

1.       Perubahan Fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai semua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.

a.   Sistem pernafasan
o   Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi
berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
o   Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial
terjadi penumpukan sekret.
o   Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²),  sehingga menyebabkan terganggunya proses difusi.
o   Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg mengganggu proses oksigenasi
            dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua ke jaringan.
o   CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun
            yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
o   Kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret dan corpus alineum dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

b.      Sistem saraf
o   Cepatnya menurunkan hubungan persarafan.
o   Lambat dalam merespon dan memerlukan waktu lebih untuk berpikir.
o   Mengecilnya saraf panca indera, mengakibatkan berkurangnya penglihatan,                 hilangnya pendengaran dan menurunnya daya penciuman dan lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.

c.       Panca indera
à   Penglihatan
o   Kornea lebih berbentuk skeris.
o   Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
o   Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).
o   Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.
o   Hilangnya daya akomodasi.
o   Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.
o   Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau.
           à   Pendengaran
o    Presbiakusis, yaitu menurunnya kemampuan atau daya pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
o   Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.
o   Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin.

      à   Pengecap dan penghidu
o   Menurunnya kemampuan pengecap.
o   Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan
berkurang.
      à   Peraba
o   Kemunduran dalam merasakan sakit.
o   Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.

d.      Kardiovaskuler
o   Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
o   Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
o   Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
o   Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk, duduk ke berdiri à bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).
o   Tekanan darah tinggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95 mmHg ).

e.       Sistem genito urinaria
o   Ginjal, mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan di glomerulus menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg %,  nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.
o   Vesika urinaria atau kandung kemih, otot-otot menjadi lemah, kapasitasnya     menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi BAK meningkat, vesika urinaria sulit dikosongkan pada pria lanjut usia.
o   Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.
o   Atropi vulva.
o   Vagina, selaput menjadi kering, elastisitas jaringan menurun dan permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang.
o   Daya sexual, frekuensi sexsual intercouse cenderung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.

f.       Sistem endokrin atau metabolik
o   Produksi hampir semua hormon menurun.
o   Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah.
o   Pituitari, pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
o   Menurunnya aktivitas tiriod, BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat.
o   Menurunnya produksi aldosteron.
o   Menurunnya sekresi hormon gonad, seperti progesteron, estrogen dan testosteron.
o   Defisiensi hormonal dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa.

g.       Sistem pencernaan
o   Kehilangan gigi, penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
o   Indera pengecap menurun, adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa manis, asin, asam dan pahit.
o   Esofagus melebar.
o   Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun dan waktu mengosongkan menurun.
o   Peristaltik usus lemah dan biasanya timbul konstipasi.
o   Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).
o   Makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan disertai berkurangnya aliran darah.

h.      Sistem muskuloskeletal
o   Tulang kehilangan densitasnya sehingga rapuh, resiko terjadi fraktur.
o   Kyphosis
o   Persendian besar & menjadi kaku.
o   Pada wanita lansia, resiko fraktur lebih tinggi.
o   Pinggang, lutut dan jari pergelangan tangan terbatas.
o   Diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek sehingga tinggi badan berkurang.
o   Gerakan reflektonik, gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus.
o   Gerakan involunter, gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus.
o   Gerakan sekutu, gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter.

i.        Sistem kulit dan jaringan ikat
o   Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
o   Kulit kering dan kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan lemak.
o   Kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.
o   Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel yang memproduksi pigmen.
o   Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka kurang baik.
o   Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.
o   Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu.
o   Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.
o   Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas.

j.        Sistem reproduksi dan kegiatan seksual
o   Perubahan sistem reproduksi.
o   Selaput lendir vagina menurun dan kering.
o   Menciutnya ovarium dan uterus.
o   atrofi payudara.
o   Testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.
o   Dorongan seks menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik.



2.       Perubahan mental atau psikologis
         Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :
o   Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.
o   Kesehatan umum
o   Tingkat pendidikan
o   Keturunan (herediter)
o   Lingkungan
o   Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian
o   Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan
o   Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan keluarga.
o   Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri.
Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang. Kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit.

3.       Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial.
o   Perubahan fisik, sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi, kemunduran orientasi, penglihatan, pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi mereka.
o   Mundurnya daya ingat, penurunan degenerasi sel sel otak.
o   Gangguan halusinasi.
o   Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi.
o   Fungsi psikososial, seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri.

4.       Perubahan Spiritual

Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow,1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. (Murray dan Zentner,1970).

PROSES TERJADINYA PENUAAN

Manusia senantiasa mengalami proses penuaan yang hingga kini tak dapat dihindari. Proses penuaan ditandai dengan adanya kemunduran fungsi dari berbagai organ tubuh secara perlahan-lahan. Proses menua tersebut ada yang normal yaitu yang tidak menimbulkan sakit dan ada pula yang patologis yang terjadi karena kemunduran fungsi akibat penyakit. Dengan disertai daya imunologik yang menurun karena usia lanjut, maka peluang terserang penyakit lebih besar. Dalam hal ini jumlah sel Limfosit T yang sangat berperan dalam sistem pertahanan tubuh fungsinya telah menurun, walaupun jumlahnya sama. Pada penyakit AIDS jumlah sel Limfosit T sangat berkurang sehingga sering dihinggapi macam-macam penyakit infeksi sebagai komplikasi.
            Arteriosklerosis adalah dasar dari proses ini. Dalam hal ini terdapat pengerasan dari dinding pembuluh darah sehingga kurang elastis seperti semula, seringkali ada bercak-bercak endapan kapur pada lapisan sel-sel endotel yang melapisi bagian dalam dari pembuluh darah yang ikut membuat pembuluh darah menjadi kaku. Pada usia lanjut selain perubahan dari penampilan seperti tersebut diatas, pada kulit dan rambut terdapat pula kemunduran dari fungsi otak dikarenakan otak yang makin mengecil. Daya keseimbangan mungkin terganggu dan fungsi panca indra mengalami kemunduran disertai fungsi organ-organ yang juga mundur antara lain paru-paru, jantung, ginjal, hati dan otot. Tinggi badan dapat berkurang beberapa sentimeter karena keping-keping tulang belakang menipis. Kini diketahui bahwa penuaan antara lain disebabkan juga karena kerusakan DNA dari sel-sel tubuh pada masa proses penuaan. Beberapa komponen yang mempengaruhi proses menua.
a.   Faktor fisiologik
-  Genetik
-  Sirkulasi darah
-  Regulasi hormon dan neural.
b.  Gaya hidup
              -  Nutrisi
              -  Stress
              -  Aktifitas fisik
c.  Lingkungan
              -  Kimia
              -  Obat
              -  Radiasi
              -  Mikroorganisme
d.  Proses menua pada Makromolekul
              -  Protein
              -  DNA-RNA
              -  Lipid
e.  Proses menua pada sel
              -  Hilangnya sel
              -  Penurunan fungsi
f.  Penyakit terkait
              -  Kardiovaskular
Gangguan fungsi yang merupakan manifestasi awal penyakit:
       -  Berhenti makan dan minum
       -  Inkontinesia urin
       -  Pusing
       -  Acute Confusional State
       -  Demensia
       -  Kehilangan berat badan
-  Failure to Thrive

Oleh karena itu, proses atau mekanisme penuaan merupakan gabungan beberapa faktor yang dapat mempercepat terjadinya peristiwa tersebut. Proses dan faktor-faktor ini sekaligus menjelaskan tentang beberapa proses terjadinya penuaan yang telah diketahui sampai saat ini.
 
Support : Creating Website | Kumpul Bahan Kuliah | Jurnal Mahasiswa
Copyright © 2011. EDUCATION - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Jurnal Mahasiswa